"Negeri kita makin kacau," ucap Limbik yang tampak tergesa-gesa.
"Kenapa? Kenapa dengan negeri kita?" sahut anggota Panakawan lainnya dengan serius.
"Lagi-lagi perang. Lagi-lagi perang. Dua negara bermusuhan. Memangnya kenapa sih kita mau perang dan bermusuhan terus?" tanya anggota lainnya. Pasukan Elit Cangguk yang terdiri dari Limbik, Canguk, Plitit, Srikayon, dan Bunguk muncul ke atas panggung. Lima Panakawan perempuan hadir dengan gaya centil, lebih ceria, ngomong blak-blakan dan kostum berwarna warni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengisahkan tentang 'Inspektur Jenderal' yang akan tiba di kota Astina Pura pimpinan Walikota Ananta Bura menjadi sentral cerita kali ini. "Kabarnya ada seorang Inspektur Jenderal yang dikirim dari pusat kerajaan untuk meninjau kota ini. Meninjau Astina Pura," ujar orang kepercayaan Ananta Bura.
Mendengar hal tersebut, walikota yang sudah berkuasa hampir 30 tahun itu berang. Dia memikirkan segala cara agar Inspektur Jenderal mengatakan yang baik-baik kepada ibukota. Bahkan cara yang terburuk dan terharam pun rela dilakukan Ananta Bura, termasuk menyuap.
Di kota yang dikisahkan jauh dari peradaban itu 'korupsi' terbiasa dilakukan. Jajaran pejabat mulai dari kepala sekolah, pengusaha, pedagang, kepala kepolisian, kepala kantor pos, sampai bawahannya pun menerima suap. Korupsi berjamaah.
Simak: Teater Koma Gunakan Artistik Sandiwara Cirebon di Panggung 'Inspektur Jenderal'
"Saya mengakui, saya menerima suap tapi kecil. Kecil sekali, hanya agar dapur ngebul dan beli kain untuk pakaian istri dan anak-anak saya," ucap sang walikota kepada Anta Hinimba yang dikira adalah sang Inspektur Jenderal.
Anta Hinimba tiba saat rumor tersebut menyeruak. Penghasilan yang minim membuat Hinimba menerima suap walikota, dengan dalih meminjam uang. Lambat laun, walikota mengajaknya untuk tinggal di rumah pribadinya dan korupsi berjamaah itu kian menjadi-jadi.
Lakon yang diadaptasi oleh Nano Riantiarno kali ini diambil dari naskah klasik Rusia, Nikolai Gogol. "Cerita masa lalu, masa kini, dan depan campur jadi satu. Segala macemnya bisa masuk dan korupsi adalah kenyataan yang terus menerus terjadi sampai sekarang," ucapnya usai gladi resik.
Sejak naskah yang memiliki judul asli 'Revizor' dipentaskan pada 1836 sampai sekarang persoalannya tetap sama. "Dari abad ke-19 sampai tahun 2015, korupsi masih terjadi. Saya melihatnya pementasan ini sebagai pembelajaran."
'Inspektur Jenderal' menampilkan aktor kawakan Teater Koma, seperti Budi Ros, Ratna Riantiarno, Sari Madjid, Dorias Pribadi, Emmanuel Handoyo, Supartono JW, dan Asmin Timbil. Aksi kocak Panakawan perempuan dilakoni oleh Daisy Lantang, Ratna Ully, Anggar Yasti, Tuti Hartati, dan dikeapali oleh Rita Matu Mona. Sederet pemain lainnya juga menambah kekocakan 'Inspektur Jenderal'. Mereka adalah Bayu Darmawan, Sir Ilham Jambak, Yulius Buyung, Julung Ramadan, Dana Hassan, dan Rangga Riantiarno.
Permainan musik diaransemen oleh Fero Aldiansyah, kostum oleh Rima Ananda Omar, dan tata artistik oleh Taufan menambah semarak. Kali ini, artistik sederhana dipilih dari gaya Sandiwara Cirebon. Seperti namanya 'Koma' yang tak pernah ada titik, pentas sederhana grup yang berdiri 1 Maret 1977 itu menutup penghujung 2015. Selamat menyaksikan!
(tia/mmu)











































