Lantas, lulusan Desain ESMOD Jakarta ini menciptakan desain dan karya seni instalasi yang terinspirasi oleh Tato Borneo. Menurutnya, tato Borneo selalu mengandung nilai-nilai yang kuat akan kepercayaan lokal.
"Motif-motifnya sebagai simbol dan makna bahwa seseorang telah bepergian ke tempat yang jauh. Bepergian adalah syarat mereka untuk mendapatkan tato," ujarnya sebelum pembukaan Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD) 2015 di Grandhotel Kemang, Jakarta Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karya 'Arduous' teradaptasi dari pola pikir ketahanan dan perjuangan melawan arus. "Karyanya lebih memancing imajinasi tentang ketahanan dalam menguji keterbatasan-keterbatasan kita," ungkapnya.
Instalasi Savira ditampilkan dengan warna hitam dan putih. Simbol pegunungan diartikan sebagai lokasi bermukim bagi masyarakat Kalimantan dan seseorang yang tubuhnya penuh dengan tato.
Simak: Triawan Munaf Bikin Karya Seni dari Tuts-tuts Piano
Sebelumnya, Savira pernah mengikuti program residensi INtern for Iris Van Herpen, di Amsterdam Belanda (2014). Dia juga pernah menerima penghargaan 'Spesial Jury Award' dari Yongki Komaladi Fashion (2013), dan penghargaan terbaik dari Indonesia Fashion Design Competition (2014), juga mendapatkan beasiswa dari Indoensia Fashion Design Competition untuk studi di Koefia, Roma, Italia (2014).
Kini, karya terbaru Savira bisa ditemukan di salah satu sudut Grandhotel Kemang, Jakarta Selatan sampai 30 November mendatang.
(tia/mmu)










































