Lewat 'Batik Kudus The Heritage', penulis sekaligus pembina Batik Kudus Miranti Serad Ginanjar membedah perjalanan batik Kudus dari masa ke masa. Simbol kebudayaan yang mulai bangkit kembali dan menjadi populer ini diungkapkannya dalam sebuah buku setebal 272 halaman yang diterbitkannya pada 2 Oktober lalu.
Dalam bedah buku yang digelar di Galeri Indonesia Kaya (GIK) siang tadi, wanita yang akrab disapa Mira itu mengatakan inspirasinya menulis buku ketika bertemu dengan seorang kurator asal Jerman beberapa waktu silam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya bertemu dengan Rudolf. Ia punya museum yang salah satu koleksinya ada satu Batik Kudus yang jadi rebutan dunia. Harganya mencapai 20 ribu U$ dollar," kenang Mira.
Dari situ, ia mulai mendokumentasikannya dan mulai merunut perjalanan Batik Kudus. Bahkan kekayaan Indonesia tersebut ada yang disimpan di British Museum. Mira menceritakan di tahun 1870-an, ada sebuah pasar malam di London yang dibawa oleh pengusaha dan membawa batik Semarang dan Kudus.
"Lalu dibeli oleh British Museum. Saat itu saya bertemu dengan pengrajin. Salah satunya Bu Yuli di tahun 2008, ada satu pengrajin yang mengajarkan ke 20 orang ibu-ibu muda di sana, karena pengrajin memang mulai berkurang," ungkapnya.
Menurutnya, jika batik Kudus tidak diperkenalkan kembali maka bisa saja simbol dari kota Kretek tersebut hilang. "Sayang kalau anak mudanya tidak belajar. Makanya remajanya dibina dengan bantuan Djarum."
Simak Juga: Visual Jalanan Gelar Pameran 'Bebas Tapi Sopan'
Batik Kudus populer di tahun 1880 sampai 1940. Kemudian, berkembang kembali di tahun 1970-an dan baru menggeliat digemari anak-anak muda di tahun 2005.
Dalam buku itu juga dibahas tentang kiprah Giok Hartono yang mencintao kain-kain tradisional Tanah Air, khususnya koleksi kain Batik Kudus. Serta bagaimana batik tradisional merambah ke seni kontemporer dan dikembangkan oleh desainer ternama.
(tia/mmu)











































