Nama Tatang Ramadhan Bouqie terbilang 'baru' di ranah seni rupa kontemporer Tanah Air. Menjadi seniman di era 1980-an namun hasrat melukisnya baru membuncah di tahun 2009 sampai sekarang ini.
Tatang yang merupakan alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB sebelumnya berprofesi sebagai desainer grafis dan ilustrator di media massa. Setelah itu, dirinya baru berkecimpung sebagai perupa. Awal Oktober ini, Galeri Nasional Indonesia bekerja sama dengan Studio Jean Kharis menggelar pameran tunggal pria yang akrab disapa Tatang itu dengan judul 'Celebrating Disorder'.
Dikuratori Jim Supangkat, pameran tersebut menampilkan catatan kehidupan dan perilaku manusia dengan simbol-simbol. Jim mengungkapkan, Tatang merupakan seniman generasi 1980-an yang dikenal akrab dengan sejarah politik Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seperti Heri Dono, Eko Nugroho, Tisna Sanjaya dan Tatang bukan seniman baru dalam artian seniman yang benar-benar baru," ungkapnya ketika ditemui di sela-sela pembukaan, semalam.
Namun, Jim juga mengakui bahwa Tatang agak terlambat masuk ke galeri. Yang menarik bagi Jim, dalam kondisi suasana 'perang' dengan dirinya sendiri, pria kelahiran 11 Mei 1953 itu selalu menampilkan parodi sosial.
"Karyanya menampilkan masalah masyarakat, budaya, politik, dan sosial. Ringkasnya masalah-masalah itu dilihat secara pikiran positif," katanya.
Tema yang merujuk pada 'Celebrating Disorder', menurut Jim, bertumpu pada teori disorder. "Yang tidak percaya dunia ini ada 'order', yang ada hanya 'disorder'. Dan saya kira teori ini mirip dengan yang dilakukan oleh Heri Dono dan Eko Nugroho di karya-karyanya," lanjut Jim.
'Parodi sosial' Tatang yang menggunakan pendekatan simbolik, alegoris, komikal, dan humor yang cerdas dituangkan dalam 45 lukisan dan 6 instalasi patung. Beberapa karyanya ada yang berukuran besar yaitu 2 x 8 meter dan 2 x 12 meter.
Eksbisi tunggal Tatang 'Celebrating Disorder' digelar di Gedung A Galeri Nasional Indonesia hingga 18 Oktober.
(tia/mmu)











































