Buku-buku 'Aneh' yang Membawa Berkah

Kembalinya Buku "Berat" (3)

Buku-buku 'Aneh' yang Membawa Berkah

Is Mujiarso - detikHot
Senin, 21 Sep 2015 16:40 WIB
Buku-buku Aneh yang Membawa Berkah
Jakarta -

Istilah “buku Jogja” telah menjadi populer di kalangan pecinta dan kolektor buku langka. Ungkapan tersebut merujuk pada buku-buku bertema “berat” yang diterbitkan oleh “pabrikan” buku Yogyakarta pasca reformasi. Buku-buku dari era tersebut kini kembali diminati dan diburu oleh para kolektor. Salah satu yang paling dicari adalah buku-buku dengan logo penerbit Bentang.

Ada cerita menarik dari seorang pecinta buku di Aceh tentang bagaimana ia “menemukan kembali” buku-buku tersebut. “Empat tahun lalu, aku nggak sengaja nemu sebuah toko buku yang kurang popular di Banda Aceh, isinya banyak buku-buku aneh yang nggak pernah kulihat di toko buku lainnya,” kenang pria bernama Kamaruzzaman Abdullah tersebut.

Dengan menggunakan nama akun Syech Prang, ia adalah seorang penjual buku di Facebook. Namanya sangat dikenal dan terpercaya sebagai penyedia buku-buku bermutu, buku antik dan eksotik, yang biasa diburu oleh para penggemar buku-buku lama. Dan, semua itu berawal dari perkenalannya dengan buku-buku terbitan Bentang yang teronggok di sebuah toko karena tak laku!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia pun melanjutkan kisahnya. “Mataku melirik dua judul buku yang sangat asing bagiku, Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966 karya Robert Cribb dan buku Madura karya Kuntowijoyo. Harganya terbilang murah, 50.000 dan 60.000. Setelah melihat sinopsisnya, tanpa pikir panjang aku lansung beli dan minta diskon sama penjualnya. Alasanku bukunya udah berdebu, kalau bukan aku yang beli pasti lama-lama jadi santapan tikus mondok. Alhamdulillah yang jualnya pun kasih diskon 25%,” tuturnya.

Setelah membaca beberapa halaman, ia pun mem-posting buku-buku tersebut tanpa bermaksud menjualnya. Tapi, di luar dugaan, respons yang masuk cukup banyak. “Ada yang inbox, bilang mau beli. Langsung kujual dengan ambil untung yang bisa dibilang wajar. Aku pun berpikir bisa beli lagi karena memang di toko buku itu masih ada stok,” ujarnya.

Singkat cerita, ada seseorang dari Jogja yang kemudian juga mengirim pesan pribadi via Facebook, menanyakan perihal buku-buku terbitan Bentang, Jendela, Ikon, Mata Bangsa, dan nama-nama penerbit asing yang belum pernah ia dengar. Lantas, ia pun kembali mengunjungi toko buku itu untuk mengecek ketersediaan buku-buku dari penerbit “aneh” yang ditanyakan itu.

“Ternyata stoknya lumayan banyak, kondisinya sudah berdebu, ditumpuk-tumpuk seperti barang nggak laku. Kemudian aku meng-inbox teman tadi untuk kasih kabar, buku-buku aneh yang dia pesan jumlahnya lumayan banyak. Teman tadi langsung minta dikirimi judul-judulnya via email. Gilanya, ini teman kayak orang kalap, semua dipesannya,” kisah Kamaruzzaman terheran-heran.

Alhasil, dari keuntungan menjual buku-buku “aneh” itu, ia pun bisa membeli lagi buku-buku yang sama dalam jumlah banyak. “Semua stok buku-buku penerbit aneh itu kuborong!” katanya seraya menambahkan bahwa saat itu dirinya belum begitu paham soal buku. Dari perburuannya, ia mendapatkan 6 eksemplar buku ‘Negara Teater’ karya Clifford Geertz, selusin ‘Tempo Doeloe’-nya Pramoedya Ananta Toer, beberapa buku ‘Seratus Tahun Kesunyian”, serta karya Leo Tolstoy, Albert Camus dan lain-lain.

“Nggak sampai dua bulan, buku-buku aneh itu memang membawa berkah, hampir semua terjual, untungnya aku nggak serakah, ada beberapa judul yang masih kusimpan, nggak kujual semua. Ternyata di kemudian hari buku-buku aneh itu menunjukkan kelsnya, harganya naik berlipat-lipat dari gherga penerbitnya,” tutur dia.

Dari situlah, nama akun Syech Prang di Facebook dikenal sebagai salah satu penyedia sekaligus pengumpul buku-buku ‘warisan’ Bentang yang koleksinya paling lengkap. Namun, masih ada sedikit penyesalan dalam dirinya. “Aku ternyata tidak menyisakan satu pun buku Negara Teater Clifford Geertz, yang sekarang untuk mencarinya bagaiman menemukan jarum di tumpukan jemari,” sesalnya.

Tentu saja, ia berterima kasih pada orang “aneh” yang pertama kali membroong buku-buku dari penerbit “aneh itu. “Namanya Andre Tanama,” ujarnya menyebut nama seorang penggila buku yang cukup beken di Yogyakarta.

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads