'Ghulur', Menari di Atas Seng

ADVERTISEMENT

'Ghulur', Menari di Atas Seng

Tia Agnes Astuti - detikHot
Kamis, 17 Sep 2015 08:08 WIB
Dok.Tia Agnes/ detikHOT
Jakarta - Moh. Hariyanto membuat para penonton bergidik ngeri malam itu. Bagaimana tidak, pertunjukan tari di dalam Teater Kecil TIM menampilkan seorang penari yang menari di atas seng. Pementasannya merupakan salah satu dari 3 koreografer yang pentas di 'DKJ Choreo-Lab' beberapa waktu lalu.

Serasa ringan, tubuh penarinya jatuh lalu bangun dan jatuh lagi dengan sendirinya. Kemudian, penari itu menggulung tubuhnya dengan seng dan berusaha membukanya lagi. Gerakan tersebut dilakukannya berulang kali.

Tarian berjudul 'Ghulur' hanya menggunakan satu penari yang beraksi di atas panggung. Selama 20 menit, 'Ghulur' ditarikan dengan bebasnya.

Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Sukarji Sriman mengatakan program yang kedua kalinya tersebut memberikan ruang kepada koreografer muda untuk mencari jati diri. "Hari berhasil membuat decak kagum dari penonton, koreografinya patut diapresiasi," ucapnya.

Lulusan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) Universitas Negeri Surabaya tersebut menekuni seni tari sejak 2006 silam. Saat itu, ia berhasil menjuarai Lomba Tari Topeng Getak se-Pulau Madura. Di tahun 2009, ia pernah mengemban misi kesenian ke Kunming (Tiongkok) sebagai Duta Indonesia.

Kelenturan tubuhnya didapatkan dengan mempelajari tari tradisi, balet sekaligus gymnastic untuk memperkaya eksplorasi tubuh. Tari 'Ghulur' mengalami beberapa kali perubahan. "Ini tentang keprihatinan dan tanah yang retak," ungkapnya.

'Ghulur' awalnya ditarikan oleh 8 penari putra dan putri. Lalu, berubah menjadi duet yang ditarikan oleh dua pria saat tampil di Bedog Art Festival. Terakhir 'Ghulur' ditarikan oleh dirinya sendiri saat di Indonesia Dance Festival (IDF) 2014.

(tia/tia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT