Digelar dari 24 September hingga 4 Oktober mendatang, festival kontemporer ini akan menampilkan teater, tari, musik, film, dan seni visual. Direktur artistik OzAsia Festival Adelaide 2015 Joseph Mitchell mengungkapkan, pengunjung Australia sangat tertarik dengan seni kontemporer Asia.
"Banyak seniman muda yang berani mengambil risiko menciptakan genre kontemporer yang terinspirasi dari budaya Asia," ungkapnya dalam siaran pers, Jumat (11/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak awal 2007, OzAsia fokus pada keragaman pertunjukan dan seni visual Asia. Seperti negara-negara Kamboja, Tibet, Tiongkok, Bengal, dan Vietnam. Sementara tiga edisi dari 2007-2009 tidak memiliki fokus regional tertentu.
Namun, di edisi berikutnya yakni tahun 2010 fokus pada negara Korea, Jepang (2011), India (2012), Malaysia (2013), dan Tiongkok (2014). Kali ini, Indonesia sebagai negara terdekat negeri Kangguru itu akan menghadirkan 90 seniman Tanah Air yang akan tampil dan showcase terbesar.
Beberapa seniman tidak hanya berasal dari ibukota, tapi juga Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Solo, dan Maluku Utara. Mitchell mengatakan bahwa Indonesia akan membawa pemahaman yang lebih komprehensif.
Simak: 'Jagongan Wagen Goes to Jakarta': Kocak dan Menyentuh!
"Indonesia dan Australia memiliki hubungan pertukaran budaya yang erat. Baik itu di seni, pendidikan, bisnis, dan sisi pemerintahannya. Ini juga berpengaruh positif pada festival seni kontemporer terbesar di Australia," katanya.
Di antara 90 seniman yang akan tampil adalah Eko Nugroho, Melati Suryodarmo, Jumaadi, hingga Teater Garasi.
(tia/mmu)











































