Teater Garasi Hingga Papermoon Puppet Theater di Jerman Fest 2015

Teater Garasi Hingga Papermoon Puppet Theater di Jerman Fest 2015

Tia Agnes Astuti - detikHot
Rabu, 02 Sep 2015 17:31 WIB
Teater Garasi Hingga Papermoon Puppet Theater di Jerman Fest 2015
Jakarta - Selain pameran seni rupa 'Market Share' dan fotografi 'Stories Left Untold' karya Nora Scheider dan Rangga Purbaya, masih ada serangkaian acara lainnya yang patut ditunggu di Jerman Fest 2015. Yakni, pementasan kolaborasi antara Teater Garasi Yogyakarta bersama dengan Rimini Protokol serta Papermoon Puppet Theater dalam proyek 'SENLIMA-Perjalanan Tanpa Batas'.

Rimini Protokol adalah trio sutradara terkenal asal Berlin. Nantinya, dalam pertunjukan Jerman Fest berjudul '100 % Yogyakarta' yang digelar 31 Oktober dan 1 November mendatang, mereka akan mengajak 100 warga Yogya.

"Para peserta dipilih secara acak dan memang warga biasa yang masih awam dalam pertunjukan teater," kata Direktur Goethe Institut Indonesia Dr. Heinrich Blomeke saat jumpa pers, Rabu (2/9/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca Juga: Ikut Pameran 'Market Share', 5 Seniman Jerman Keliling Pasar di Jakarta

Menurutnya, warga yang dipilih mewakili beberapa lapisan masyarakat lewat proses casting. Mereka yang terpilih akan menggambarkan perspektif pribadi masing-masing tentang kota domisili yang sudah ditinggalinya di atas panggung. Konsep tersebut sudah diterapkan di kota besar di dunia, yaitu Berlin, Wina, Zurich, London, Tokyo, dan Melbourne.

Tak hanya '100% Yogyakarta' saja yang menjadi highlight dalam Jerman Fest 2015, tapi lewat 'SENLIMA-Perjalanan Tanpa Batas' kelompok teater yang digawangi pasangan suami istri Ria dan Iwan juga akan terlibat. Mereka rencananya berkolaborasi dengan teater independen asal Berlin Retrofuturisten yang dibentuk 2011 lalu.

Simak Juga: 10 Seniman Indonesia-Jerman Pamerkan Karya tentang Pasar Tebet

Keduanya pernah belajar bersama-sama di Akademi Seni Drama Ernst Busch serta mengembangkan tema 'perbatasan'. Isu batas menjadi fenomena budaya, linguistik, geografis, keagamaan, dan ideologi.

Kelompok teater Retrofuturisten yang berkunjung ke Yogyakarta menceritakan awal mulanya mempelajari aktivitas Papermoon sekaligus budaya hidup di kota Gudeg tersebut. "Bagian yang menariknya adalah bagaimana cara membangun sebuah panggung dan menggunakan material yang bisa muat untuk diangkut dalam pesawat," katanya seperti dikutip dari katalog Jerman Fest 2015.

Proses kerja bareng tersebut menghasilkan pertunjukan animasi langsung dengan menggunaman proyektor mini dan teknologi Isadora. Ide video art dan pop up tersebut secara langsung terhubung dengan alur cerita dan topik utama, tentu saja karakter boneka khas Papermoon akan ditampilkan secara berbeda dan unik.

'SENLIMA- Papermoon dan Retrofuturisten' diselenggarakan pada 1 Oktober di PKKH UGM Yogyakarta dan 4 Oktober di Teater Salihara Jakarta Selatan!

(tia/ron)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads