Imas Darsih dari Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih mengatakan pementasan ini bertujuan untuk menceritakan kembali. "Kami juga berharap dapat mengenalkan sejarah bangsa kepada masyarakat Jakarta," ucapnya dalam keterangan pers kepada detikHOT, Senin (31/8/2015).
Baca Juga: Jadi Primadona di Panggung Indonesia, Dangdut Tutup Museumsuferfest 2015
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, Jayakarta juga berhasil menghalau pasukan Portugis yang juga berambisi menguasai bandar samudra nan ramai itu. Fitri Tropica yang baru pertama kali berkolaborasi dengan Miss Tjitjih mengaku senang dapat terlibat dalam pertunjukan ini.
"Cerita Pangeran Jayakarta yang dikemas secara modern ini semoga dapat memikat masyarakat luas untuk makin mencintai sejarah bangsanya sendiri," ungkap Fitri.
Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih sendiri dulunya merupakan perkumpulan opera Valencia. Opera ini berdiri pada 1928 di Jakarta. Di awal mereka pentas, opera Valencia menggunakan bahasa Sunda, Melayu rendah, dan Indonesia. Sejak zaman Jepang, opera Valencia dikenal kerap mementaskan pertunjukan dengan lakon yang sarat kritik sosial hingga yang berbau propaganda.
Seiring berjalannya waktu, nama kelompok ini pun diganti menjadi kelompok Sandiwara Miss Tjijih, mengambil nama dari sang primadona, Tjitjih. Ia adalah seorang perempuan muda asal Sumedang, Jawa Barat. Sejak saat itu, Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih konsisten menggunakan bahasa Sunda dalam pementasan-pementasannya.
(tia/tia)











































