Satu dari lima orang di Amerika Serikat memiliki tato. Serta menurut jajak pendapat Nielsen, hampir 90 persen dari mereka tidak pernah menyesal merajah tubuhnya.
Meski seni tubuh menjadi praktik kuno dan tradisi di beberapa tempat, namun sebuah buku berjudul '100 Years of Tattoo' mengungkapkan seluk beluk dari seni tato.
Dilansir dari Huffington Post, Rabu (1/7/2015), sejarah tato terjadi di Inggris pada 1860-an. Setelah Prince of Wales menandai dirinya dengan salib dan mengambil bagian dalam ritual Abad Pertengahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, sebelum bisnis Hildebrandt meledak menjadi pelatihan yang diminati masyarakat umum. Tato disimbolkan sebagai keberuntungan, dan pengingat kehidupan untuk kembali ke asalnya atau rumah.
Dalam buku tersebut juga diungkapkan, sang penulis David McComb menggali industri tato. Ia membahas mengenai kesenjangan gender di antara seniman tato.
"Wanita berpartisipasi dalam industri tato yang mulai populer di tahun 1950-an sampai awal 1960. Khususnya, di kalangan geng motor," tulisnya.
Di salah satu foto terdapat gambar seorang wanita yang memamerkan lengannya dengan simbol hati. Di atasnya tertulis 'Property of Alan'. Bahkan tren tato di tahun 1970-an, membuat perempuan terlihat lebih macho.
Pada 1979, seniman tato perempuan seperti Suzanne Fauser bermunculan. Ia membuat tato bajak laut yang membuat namanya terkenal, dengan ekspresi tegas dan rambut tebal.
Dalam buku tersebut, McComb juga menyoroti makna dari setiap tato yang populer di masanya. Hingga tato yang dibuat di dalam penjara dan fenomena tato di akhir abad ke-19.
(tia/mmu)











































