Di balik itu semua, anak-anak dari Gurabunga di tahun 1950-an dianggap tak memiliki harapan untuk melintas nasib melebihi apa yang lazim dicapai laki-laki desa itu. Achmad memiliki cita-cita besar.
Ia ingin seperti anak-anak muda di pesisir yang hidup di kota. Mereka bisa memimpin daerah, mampu membuat keputusan penting dan menyejahterakan rakyatnya. Setelah menempuh pendidikan dan jalan berliku, akhirnya ia bisa memimpin kota Tidore periode 2005-2010, kemudian terpilih lagi di tahun 2010 hingga 2015 mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari persoalan riset hingga mewawancarai kerabat dan keluarga Achmad di Tidore. Usai peluncuran buku, kepada detikHOT ia menceritakan suka dukanya membuat buku biografi terbarunya.
"Pak Achmad ini orang yang minim komunikasi. Yang dilakukannya adalah tindakan dan tindakan, kerja dan kerja. Sehingga saya yang harus menggalinya lebih dalam lagi. Ini yang menjadi tantangan saya," katanya, Kamis (11/12/2014).
Keeksotikan Tidore pun menjadi daya tarik tersendiri bagi Alberthiene. Selama berabad-abad lalu, Tidore yang kaya rempah-rempah tak bisa ditundukkan Belanda. Panen dan kualitas rempahnya membuat Tidore bercahaya sejak lampau.
Tidore pula yang pertama kali menemukan Papua. Serta menjadikan wilayah itu sebagai 'anak kandung' yang perlu dibina dan dirangkul. Oleh karena itu, Gubernur Papua yang pertama berasal dari Sultan Tidore.
"Sayangnya kejayaan Tidore seperti terlupakan oleh pemerintah dan warga Indonesia. Makanya saya mencoba mengangkat keindahan Tidore dalam buku ini," ungkapnya.
Buku 'Laki-laki dari Tidore' karya Alberthiene Endah ini dapat dibeli seharga Rp 60 ribu. Akan tersedia di toko buku mulai Januari 2015.
(tia/mmu)











































