Di ibukota sendiri, perjalanannya pun sempat terhenti. "Mereka harus survive sendiri, sampai-sampai anak siswanya yang membuat poster, mengurus sewa gedung, keuangan dan segala hal penyelenggaraannya," ungkap Nano kepada detikHOT di sela-sela penjurian.
Selain itu, festival sejenis pun mungkin hanya bisa terlaksana selama tiga atau lima tahun. Namun diakuinya ada beberapa kota di Tanah Air yang mampu mewujudkannya. Di antaranya adalah Yogyakarta dan Semarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika Nano bersama dengan istrinya Ratna Riantiarno dipercayakan sebagai juri dan pemberi workshop, mereka tidak menyangka siswa-siswa tingkat SMP dan SMA tersebut mampu bermain dengan baik. Mereka memahami apa itu blocking di atas panggung, tata cahaya, artistik panggung, dan bagaimana cara berakting yang baik.
"Perayaan ini bukan hanya milik siswa tapi semua unsur juga terlibat. Para sutradaranya dan direktur artistiknya adalah guru mereka juga," kata Nano.
Ratna pun menambahkan bahwa kehadirannya kali ini adalah yang pertama. "Terus terang jadi kepingin muda lagi. Semua proses grup teater ini layak diliput dan dimuat. Anak-anak muda ini punya greget yang luar biasa dibandingkan dengan yang di Jakarta," tuturnya.
(tia/mmu)











































