"Di hatiku yang ada cuma Raden Gatot Kaca. Di mana dia? Lelaki pujaan itu. Di manaaaa..." teriak Limbuk yang bertubuh gemuk dengan jubah berwarna merah keemasan.
Cangik yang mengenakan kostum berwarna putih hitam dengan celana motif Lasem, Yogyakarta itu masuk ke atas panggung. Ia bertubuh lebih kecil daripada Limbuk.
"Kamu itu ngajak kawin terus tapi ndak ada yang mau," celetuknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lakon yang terinspirasi dari wayang ini mengambil kisah tentang panakawan perempuan. "Apakah ini musibah atau berkah? Ini menjadi pertanyaan bagi kita dan pementasan ini mengajak untuk berpikir," ujar sutradara Teater Koma Nano Riantiarno di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, Senin (3/11/2014).
Pementasan ini menceritakan tengang Cangik, panakawan wanita dari Kerajaan Mandura yang bertugas memilih pemimpin negeri Suranesia setelah Maharaja (raja yang berkuasa) meninggal dunia. Cangik bertugas menjadi juri yang bertugas memilih satu Maharaja dari enam calon yang maju.
Mereka adalah Santunu Garu, Dundung Bikung, Graito Bakari, BUrama-Rama, Binanti Yugama, dan Jaka Wisesa. Mereka semua merasa dirinya pantas dan mampu memerintah Suranesia.
Tak hanya bertugas memilih, Cangik pun berhasil memanggil tokoh-tokoh besar dunia wayang untuk ikut menjadi juri dalam sayembara kali ini. Para juri adalah Semar, Retari Permoni atau ratu setan, Retara Narada atau perdana menteri para dewa, Raden Gatot Kaca sebagai wakil Pandawa, Raden Lesmono wakil Kurawa, dan Riri Ratri putri raja Kediri.
Lakon yang ditulisnya lima bulan yang lalu ini ceritanya mirip dengan yang terjadi di Indonesia. "Mungkin bisa dibilang mengangkat unsur feminisme, sekarang kan menteri perempuan ada 8 dan kami memang sengaja mengambil tokoh pewayangan perempuan," ungkapnya.
'Republik Cangik' akan dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada Selasa sampai Sabtu pukul 20.00 WIB dan Minggu pukul 14.00 WIB. Dengan harga tiket dibandrol mulai Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu.
(tia/tia)











































