Beberapa lama suara letupan senapan itu terdengar. Bunyinya berentetan dan memecah keheningan pabrik kecap. Enam pejuang itu bersimbah darah. Namun ada satu pria berpakaian merah yang menggeliat-geliat tanda kehidupan.
Ia adalah Amir. "Kita masih punya harapan... Masih ada harapan," ucap sang narrator.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itulah sepenggal adegan akhir dari pertunjukan dramatic reading Teater Koma. Mengangkat semangat masa lampau bangsa Indonesia, akhir pekan lalu di Galeri Indonesia Kaya Teater Koma mempersembahkan lakon berjudul 'Nyaris'.
Sebanyak 10 pemain dari Teater Koma ikut mengisi pertunjukan berdurasi 45 menit tersebut. Menurut pendiri Teater Koma sekaligus sutradara Nano Riantiarno, naskah pentasnya ditulis tahun 1972 silam.
"Waktu itu ditayangkan di televisi. Yang sutradarai Pak Teguh dan saya masih di Teater Populer. Naskah ini ditulis ulang," ungkapnya usai pentas di Galeri Indonesia Kaya akhir pekan lalu.
Tema nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia yang diangkat Teater Koma dalam lakon 'Nyaris', menurut Nano masih relevan dengan keadaan sekarang ini. "Semangat juangnya masih sama dan meski sudah merdeka apakah bangsa Indonesia sudah benar-benar merdeka?" ucapnya.
Sejak didirikan pada 1 Maret 1977 hingga kini, Teater Koma telah memproduksi 132 pertunjukan baik di layar televisi maupun di panggung TIM dan GKJ. Lakon 'Nyaris' mengajak penonton untuk larut dalam kejadian pada masa perjuangan. Melalui kisah Amir (Rangga Riantiarno), para generasi muda diajak untuk kembali mengingat dan mengapresiasi pahlawan yang telah berkorban sampai titik darah penghabisan demi kemerdekaan.
(tia/mmu)











































