Ia membuat sebuah instalasi berjudul 'Untitled' dan uniknya berbentuk payung. Bahannya terbuat dari kayu. Karya tersebut tak sekedar sebuah payung, namun bisa bergerak dan berputar seperti karosel.
Leo menggantungkannya di langit-langit depan galeri Erasmus Huis, Jakarta dalam pameran 'HotWave' yang digelar hingga 6 Agustus mendatang. Ia menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan ide ini dari simbol payung dalam Kesultanan Yogyakarta.
"Payung ini digunakan oleh Sultan sebagai pelindung. Anggota keraton juga menggunakannya dalam kirab," ujarnya kepada detikHOT usai pembukaan pameran, Kamis malam (19/6/2014).
Simbol ini difungsikan sebagai perlindungan. Namun, menurut Leo kini payung tersebut telah beralih fungsi. "Kayaknya sekarang sudah lebih kepada pencitraan bukan melindungi lagi dari sinar matahari," katanya.
Di dalam karya seni instalasi payung tersebut ditempatkan jarum-jarum di naungannya. Ketika bergerak memutar maka payungnya akan nampak indah.
"Saya menginterpretasikan simbol ini lebih ke sisi parodinya saja. Perlindungan dan meneduhkan jadi humoris," tutur Leo.
Selama masa residensi, Leo tak hanya membuat 'Untitled' saja namun ia juga menciptakan karya seni kontemporer lainnya. Di antaranya adalah 'Compass' dan 'Plumblier' yaitu ornamen yang digantung menyerupai chandelier (lampu gantung mewah).
Sebelum pameran di Erasmus Huis, Leo juga pernah mengadakan pameran tunggal dan kelompok. Pada 2011 lalu, ia menggelar pameran besar Patung Kontemporer Indonesia berjudul 'Ekspansi' di Galeri Nasional.
Di tahun 2010, Leo juga pernah mendapatkan nominasi 60 seniman dalam Bandung Contemporary Art Award. Serta, nominasi Indoor Sculpture di kompetisi International Cultural Center Young Sculptor di Pandaan, Jawa Timur.
(tia/mmu)










































