Beberapa kali perjalanan hingga ke pedalaman Nusantara dilalui oleh Refi Maskot untuk meneliti dan mendokumentasikan warisan rajah tubuh dari leluhur. Ia melaju ke pedalaman Mentawai dan Dayak. Selama tiga pekan ia berada di Mentawai, tak kunjung menemukan orang yang mau ditato secara tradisional.
"Selama tiga minggu enggak ada orang sana yang mau ditato, akhirnya kaki saya yang ditato," jelasnya dalam acara tersebut (25/3/2014) di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia. Lebih jauh Refi menjelaskan bahwa di Mentawai, generasi mudanya sudah tak mau ditato secara tradisonal.
"Orang sana sudah pada maunya pakai alat dan tatonya naga semua, semua sama motifnya karena seniman tatonya sama semua. Mereka sudah enggak nyaman dengan tato motif tradisional," sambung Refi.
Refi bahkan sempat membuat bingung suku pedalaman tersebut, karena ia bersedia untuk ditato secara tradisional. Dari hasil dokumentasinya, tampak tato yang tak lagi bermotif purba dibubuhi ke tubuh anak-anak mudanya. Kini mereka lebih suka gambar-gambar yang lebih modern, seperti naga, bunga, simbol yin yang dan lainnya. Kekhawatiran akan pergeseran nilai yang semakin parah pun hadir di benak Refi.
Ditambah lagi kondisi ini juga ia temui di daerah Kalimantan Barat tahun 2013 silam. "Tujuan saya kesana untuk melihat tato-tato purba yang dimiliki para orang tua. Kalau anak-anak mudanya enggak jauh sama Mentawai, tatonya bunga atau kupu-kupu gitu ya," jelasnya.
Pergeseran ini, menurut Refi mulai bergerak sejak era tahun 80-an. Ketika stigmatisasi akan tato merebak sangat kuat dan membuat banyak masyarakat adat ketakutan akan identitasnya sendiri.
"Kalau yang anak muda, sudah mulai mau ikut-ikut ke modern tapi masih berantakan. Sebenarnya ini yang mau saya kasih tahu, tentang kondisi memperihatinkan dari pergeseran nilai tato," ujar Refi.
(ass/mmu)











































