Ada yang baru dalam perhelatan dwi tahunan ini, yaitu ketetapan bahwa peserta pameran harus berusia di bawah 35 tahun. "Agak berbeda dengan pameran manifesto sebelumnya, dalam pameran kali ini tim kurator memutuskan untuk mengambil karya dari teman-teman perupa dari usia di bawah 35 tahun," kata Asikin Hasan dalam pidato pembukaan pameran, Selasa (20/05/2014).
"35 tahun kalau kita lihat sebagai sebuah bentang waktu, merupakan sebuah waktu yang singkat untuk sebuah proses berkarya dalam seni rupa." Ini tentunya bukan tanpa alasan, setelah menjelaskan bahwa usia 35 tahun memiliki maknanya sendiri dan ia pun mengaitkan ini dengan sejarah bangsa kita.
"Tapi usia ini, sangat relatif. Kalau kita lihat dari sejarah bangsa kita, entah itu sosok Bung Karno, Tan Malaka, Sutan Syahrir semuanya aktif dalam kegiatan politik dan mengaktualisasikan dirinya di bawah usia 35 tahun," paparnya. Di mata para kurator pameran ini, usia 35 tahun adalah sebuah jenjang yang menentukan apakah seseorang bisa menjadi sesuatu atau tidak.
Selain bicara pertimbangan kematangan usia dan aura muda yang dihembuskan pada pameran manifesto kali ini, generasi di bawah usia 35 tahun yang dikemukakan juga bisa menjadi jembatan penghubung wacana sejarah. Dari generasi sebelumnya ke generasi digital yang sering diasosiasikan sebagai, yang serba instan.

Pergerakan proses ini juga tercermin pada karya seni rupa yang dipampang. Tak mau terbentur dengan bentuk seni yang konvensional, seperti lukisan atau patung. Sebagian seniman yang berpatisipasi di sini banyak gabungkan berbagai unsur dan teknik dalam dunia seni rupa untuk dijadikan sebuah instalasi yang siap direspons publik.
"Semoga pameran ini tak hanya memberikan kesempatan dan dorongan kepada para seniman muda kita, tetapi juga berhasil menyampaikan kepada kita semua seluruh pandangan, sikap dan pesan generasi muda yang bersemangat," tambah Kepala Galeri Nasional Tubagus 'Andre' Sukmana.
(ass/mmu)











































