'Swatata', Karya Seni Untuk Memaknai Keseharian Warga

Pameran Seni Rupa 'Swatata' (1)

'Swatata', Karya Seni Untuk Memaknai Keseharian Warga

- detikHot
Rabu, 07 Mei 2014 10:30 WIB
Swatata, Karya Seni Untuk Memaknai Keseharian Warga
Dok.Astrid Septriana/ detikHOT
Jakarta - Swatata, mendengar kata tersebut pastinya akan terasa asing di telinga. Kata ini merupakan tajuk dari pameran yang diselenggarakan di Ruang Rupa, Tebet, Jakarta Selatan mulai 23 April hingga hingga hari ini.

Tajuk tersebut diadopsi dari istilah asing 'self-organise', yang diterjemahkan secara spontan oleh salah seorang peserta pameran, Muhammad Fatchurofi. Mengenai istilah 'self-organise', juga telah menjadi bahan telaah bagi tiga seniman yang menyajikan karya mereka dalam pameran Swatata.

Yakni, Arie Syarifuddin, Ismal Muntaha dan Muhammad Fatchurofi. Sedangkan yang menjadi penggagasnya adalah Irwan Ahmett dan sebagai kurator Mitha Budhyharto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada banyak realita yang dekat dan bahkan mendarah daging dalam masyarakat. Serta yang dijadikan bahan kajian dan sajian di pameran seni rupa Swatata. Berikut laporan detikHOT mengenai pameran tersebut.

***

"Saya diundang oleh Irwan Ahmett, yang pertama kali menggagas ide untuk pameran dengan ketiga seniman ini ketika kita bertemu di Jepang di tahun 2013," jelas Mitha Budhyarto melalui surat elektronik kepada detikHOT Selasa (6/5/2014).

Menurutnya, bagian terpenting dari proses kuratorial dalam pameran ini adalah diskusi intensif dan tukar pikiran dengan para seniman dan pihak galeri Ruang Rupa.

"Di awal saya dan para seniman berusaha membuat daftar pertanyaan yang ingin kita jawab. Ini kita gunakan sebagai titik berangkat. Dari sinilah tema mulai terurai, dan mulai terlihat perbedaan minat tiap seniman," katanya.



Proses intensif ini pun memakan waktu hingga sekitar lima bulan. Mitha juga menjelaskan mengenai tema besar dari pameran dan makna di balik kata 'Swatata'.

"Masyarakat kita sekarang ini sedang terlalu bergantung pada pola kelola kelembagaan yang terlalu hierarkis, terpusat, birokratis, dan penuh dengan pengkotak-kotakan. Maka dari itu penting untuk melihat apakah ada cara lain mengelola segala aktifitas kita pada umumnya," jelas Mitha.

Ternyata terdapat cara lain yang tumbuh subur dan berkembang secara organik di dalam masyarakat. Jika ingin melihat di wilayah Eropa, praktek ini gencar tumbuh sejak terjadi krisis ekonomi.

Namun, tradisi membuat sebuah praktek yang telah membudaya untuk dijadikan sebuah hipotesa, belumlah menjadi acuan utama kita, beda dengan ranah barat tadi.

Mitha mencoba bandingkan, bagaimana dalam masyarakat kita, pola kelola yang menjadi arus utama atau sebutlah absah identik dengan birokrasi, yang mana mengandung represi dan membentuk penolakan, disadari atau tidak.

"Karya-karya yang ada di pameran ini mengupas aspek tertentu dari praktik swatata yang telah kami perhatikan sejauh ini."

Akhirnya dengan riset dan pendalaman materi yang digali, pameran Swatata hadir dan menyajikan lima karya. Di antaranya, 'Struktur Baur', 'Alter' dan 'Kamar Afirmasi' karya Muhammad Fatchurofi, 'Saran Penyajian' karya Arie Syarifuddin dan 'Pada Suatu Hari Ada Seekor Rusa Hilang' karya Ismal Muntaha.



(ass/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads