Membidik Cerita Hidup Perempuan Penjaga Perlintasan Kereta Api

Ragam Kisah dalam Esei Foto Pameran Unfinished (4)

Membidik Cerita Hidup Perempuan Penjaga Perlintasan Kereta Api

- detikHot
Senin, 14 Apr 2014 11:42 WIB
Membidik Cerita Hidup Perempuan Penjaga Perlintasan Kereta Api
(Astrid Septriana /detikHOT)
Jakarta - Mungkin sudah saatnya, Anda tak mengeluhkan bagaimana suasana kerja di lingkungan Anda. Pasalnya di luar sana seorang ibu, rela bekerja pagi hingga petang tanpa bayaran, apalagi fasilitas khusus.

Ini adalah kisah dari Sri Wiyani, seorang janda empat anak yang berusia 56 tahun. Kisah ini, diangkat oleh salah seorang peserta kelas jurnalistik di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), Arya Manggala Nuswantoro.

Dalam pameran foto jurnalistik angkatan 19 GFJA, yang bertajuk 'Unfinished', Arya menyajikan esei foto yang merangkum bagaimana keseharian Sri Wiyani. Sosok ibu yang tak memedulikan panas terik, hujan badai, juga nyaringnya suara kereta dalam menjalani profesinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arya, pria lulusan Institut Seni Indonesia, jurusan desain komunikasi visual ini menjelaskan bahwa apa yang dijalani oleh si malaikat penjaga perlintasan kereta ini adalah 'warisan' dari mendiang suaminya. Dalam pandangan Arya, Sri menjalani profesinya ini juga karena kepeduliannya akan keselamatan pengguna jalan.

Arya berkisah pendapat yang dikantongi Sri per harinya berkisar Rp. 30 ribu, bila cuaca buruk, tak jarang ia pulang bersama kantong kosong.

"Waktu itu kebetulan pernah motret di daerah Klender, Jakarta Timur dan ingat ada seorang penjaga palang pintu tidak resmi. Ini menarik, apalagi Desember lalu ada kejadian kecelakaan kereta di Bintaro," jelas Arya kepada detikHOT (12/04/2014) di Galeri Antara, Pasar Baru.

Dari pengalaman yang ia lalui untuk merekam jejak Sri Wiyani, Arya ingin menyampaikan bahwa di ibukota ada banyak perlintasan kereta yang tidak resmi. Menurut data yang disimpulkan Arya, dari 481 perlintasan kereta api di Jakarta, 144 di antaranya merupakan perlintasan tidak resmi.

Persoalan kecelakaan yang terjadi di perlintasan kereta pun seolah tak pernah berhenti. Selama sekitar tiga bulan, Arya mendokumentasikan hari-hari Sri di perlintasan kereta. Menurut kesaksiannya, dalam penjagaan Sri, belum pernah ada kecelakaan yang terjadi di sini.

Ia memulai perkenalannya dengan narasumbernya ini, dengan megunjungi rumahnya, mengobrol dan Sri pun memberi isyarat yang mengizinkan Arya mendokumentasikan dirinya.

"Enggak langsung motret ya, ajak ngobrol-ngobrol dulu, main kerumahnya dulu. Hingga total sekitar tiga bulan untuk eksekusi proyek ini. Setiap pagi ke sana dulu, lalu saya berangkat kerja dan sore kembali ke sana."

Tujuh frame foto Arya yang disajikan dalam ruang saji karya Galeri Antara ini, merupakan buah atas kinerjanya berlatih di kelas GFJA dan pengalaman. Ia pun mengemukakan bahwa salah satu hal penting dalam pendokumentasian seseorang adalah tentang etikanya.

"Latar belakang seni yang saya miliki juga sangat berpengaruh, terutama dalam perihal dasarnya. Seperti komposisi dan warna dalam foto yang saya ambil," jelasnya. "Ini sebenarnya pekerjaan rumah bagi transportasi massal di Indonesia, naik apa saja sepertinya tidak aman, banyak kecelakaan."

(ass/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads