Pameran itu diberi judul 'The Art of Leadership: A President's Personal Diplomacy'. Sejumlah 24 pemimpin dunia semasa dia menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat tahun 2004-2009, jadi obyek lukisan potraitnya.
Termasuk di antaranya adalah Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Afghanistan Hamid Karzai, Mantan Perdana Menteri Tony Blair, dan pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Potret ayahnya George HW Bush, Presiden ke 41 juga jadi salah sati obyek dalam pameran. Bush mengatakan inilah lukisan favoritnya membuatnya meneteskan air mata saat mengerjakannya.
Ibunya Barbara Bush yang juga hadir dalam wawancara tersebut dengan bercanda berkomentar, "Itu portrait suamiku?" katanya. Namun Barbara segera meralat komentarnya dan mengatakan betapa dia sangat menyukai lukisan itu.
Bush tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada melukis hingga meninggalkan Gedung Putih dan membaca esai Winston Churcill, Perdana Menteri Inggris berjudul 'Painting as a Pastime'. Karya pertama Bush adalah lukisan semua anggota keluarganya dengan app iPad-nya.
"Aku ingin babak terakhir hidupku puas dan tercukupi. Lantas muncul keinginan melukis, yang kemudian tak hanya membantu mengisi waktuku tapi juga membuka pikiranku," kata Bush.
Sejak saat itu Bush jadi sangat rajin melukis. "Anda tahu kan, saya orang yang tak bisa diam, dan saya selalu ingin jadi lebih baik lagi."
Bush, 67 tahun, mengatakan sebenarnya agak engan memamerkan karya-karyanya. Namun akhirnya dia menyerah. Dengan merendah Bush mengatakan bahwa tanda tangan yang dibubuhkan pada lukisannya jauh lebih mahal dibanding lukisan karyanya.
Dari pengalamannya melukis portrait beberapa orang, Bush punya pengalaman unik yang agak berbahaya. "Pokoknya, jangan pernah mencoba melukis istrimu," katanya.
(utw/utw)











































