Kini, di usianya yang menginjak 70 tahun Putu Wijaya menjadi seorang pelukis. Kamis pekan lalu, ia baru saja membuka pameran lukisannya berjudul 'Bertolak dari yang Ada' di Bentara Budaya Jakarta.
Namun, di antara semua profesi dan impian yang sudah dilakoninya ada satu hal yang belum tercapai. "Kepingin bikin film, itu yang belum kesampaian," ujarnya kepada detikHOT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sepertinya memang belum dipercaya untuk pegang film. Kalau sinetron atau FTV kan sudah," kata Putu.

Seperti apa mimpinya dalam membuat film? Putu menceritakan jika ia ingin membuatnya seperti kisah 'puputan' dalam sejarah tradisi Bali. 'Puputan' itu artinya perjuangan habis-habisan.
Namun, berjuang dalam arti bukan seperti peperangan, melainkan dalam bidang lainnya seperti memberantas korupsi, ketidakadilan, dan sebagainya.
Putu yang pernah mengenyam pendidikan di International Writing Programme, Iowa, Amerika Serikat tahun 1974 silam ini juga mengatakan ada impian lainnya di usianya yang ke-70 tahun.
"Saya ingin menerbitkan buku kumpulan puisi dan esai saya. Itu ada ribuan tersebar di mana-mana. Inginnya dijadikan satu buku," katanya.
Serta mimpinya yang lainnya adalah agar setiap orang yang berprofesi sebagai sastrawan bisa menghidupi keluarganya dari situ. "Saya ingin hidup dari profesi saya."
Dengan terjun di dunia teater dan menulis, hingga kini ia hanya berkecukupan saja. Jika di sinetron, Putu menjelaskan bisa menghidupinya tapi tak selamanya.
"Apalagi dalam kondisi saya seperti ini. Sebelum masuk rumah sakit 2012 lalu, saya masih buat naskah FTV, tapi sudah tidak mungkin lagi," ujarnya.
Perjalanan hidupnya ini diibaratkan Putu seperti novel yang tak kunjung selesai. Ketika ia mengira sudah mencapai bab akhir, ternyata itu belum usai. Itu yang dirasakannya sampai sekarang ini.
(tia/utw)










































