Tapi kini tampaknya semakin sedikit orang yang mengingat atau remaja yang mengenal kisah itu. Padahal menurut Denny Malik, koreografer dan sutradara pementasan Siti Nurbaya kisah itu tak kalah menariknya dengan cerita Romeo and Juliet karya William Shakespeare dari Inggris.
Tak heran Denny sangat bersemangat ketika diberi kesempatan untuk membuat pementasan drama musikal Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) ini oleh Bakti Budaya Djarum Foundation.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
*****
Dua tahun lalu tiba-tiba saja terbersit dalam benak Denny Malik untuk membuat drama musikal tentang Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai). Kenapa cerita ini? Karena menurut Denny kandungan cerita ini sangat lengkap.
"Romantismenya ada, tragedinya dapet, pilu, tapi juga ada cerita yang mencekamnya," kata pria berdarah Minang itu saat konferensi pers beberapa waktu lalu.
Namun demi membedakan dengan pementasan lain atau juga versi sinetron yang pernah ditayangkan di televisi dengan pemeran HIM Damsyik, Novia Kolopaking dan Gusti Randa, Denny mengemasnya dalam bentuk drama musikal populer.
Ide Denny ini lantas mendapat dukungan dari Kharisma Production dan Djarum Apresiasi Budaya. "Mas Denny Malik ini kan sudah 34 tahun malang melintang sebagai show director. Ini akan jadi pertunjukan yang besar," kata Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.
Β
Pementasannya sendiri memang akhirnya di jadi berdekatan dengan pelaksanaan kampanye dan Pemilu. Tapi ini tampaknya tak jadi masalah. "Kami justru berharap ini justru jadi ajang untuk 'ngademin' suasana yang mungkin mulai memanas menjelang Pemilu. Memberi aura positif pada semua orang dan mengingatkan pada keberagaman budaya kita," kata Renita.
"Kalau bisa para petinggi partai dan para calon legislatif itu ikut menonton pementasan ini. Lupakan dulu lah sejenak kepentingan politik dan pribadi dengan hiburan ini," kata Nanan Soekarna, salah seorang perwira tinggi Polri yang ikut memproduseri pementasan ini.
(utw/utw)











































