"Puisi Wiji Thukul yang berjudul 'Nyanyian Akar Rumput' memang menjadi tema keseluruhan bagi festival ini," ujar program director ALF 2014, Okky Madasari usai jumpa pers di Hong Kong Cafe, Jakarta Pusat Rabu (12/3/2014).
Melalui sajak penyair ini, festival ini memang ditunjukkan bagi mereka yang suaranya tak didengar. "Setiap orang bebas merayakan seni dan sastra bersama-sama."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu saja, tapi juga terdapat bincang-bincang dengan para penerbit dari Gramedia, Plot Point, Gagas Media, Bentang Pustaka, Kata Bergerak, dan lain-lain. Serta adanya temu dengan para komunitas buku di Indonesia.
Okky juga menjelaskan nantinya akan ada sosialisasi dari 'Indonesia Goes Frankfrut' di ALF 2014. "Ini sebagai persiapan menuju mereka ke sana 2015 nanti. Mereka minta sendiri untuk sosilisasi," kata Okky.
Sedangkan workshop khusus untuk apresiasi terhadap syair-syair perlawanan Wiji Thukul, pihaknya akan membuat acara khusus dengan tema 'Wiji Thukul: Karya and Kisah' pada hari kedua Sabtu (22/3/2014).
Dengan pembicaranya yaitu Joko Pinurbo, Mumu Aloha, dan putrinya Wiji Thukul, Fitri Nganti Wani. Pada malam harinya selain Fitri Nganti, anak dari Wiji Thukul juga akan hadir yakni Fajar Merah.
Tertarik hadir? Bagi para pengunjung yang ingin mengikuti workshop, Festival Sastra ASEAN ini tidak akan dipungut biaya apa pun.
(tia/utw)











































