Mengupas Kontroversi Tarekat Khalwatiyah Lewat 'Tata Cara Tante Cora'

Festival Film Santri (3)

Mengupas Kontroversi Tarekat Khalwatiyah Lewat 'Tata Cara Tante Cora'

- detikHot
Rabu, 26 Feb 2014 10:23 WIB
Mengupas Kontroversi Tarekat Khalwatiyah Lewat Tata Cara Tante Cora
Cuplikan film 'Tata Cara Tante Cora'. (dok.FFS)
Jakarta - Tak mudah memahami perbedaan jika informasi yang didapat juga sepotong-sepotong. Ini disadari betul oleh santriwati dari Pondok Pesantren Nadlatul Ulum, Maros, Sulawesi Selatan. Maka ketika salah satu anggota tim, Hafidzatul Azkia, 16 tahun mencetuskan ide untuk membuat film dokumenter tentang Tarekat Khalwatiyah, mereka banyak menggali apa yang hendak dipaparkan.

Menurut Azkia seperti dituturkan pada detikHOT, selama beberapa waktu, banyak masyarakat sekitar tempat berkumpulnya tarekat yang memandang curiga. Dari kecurigaan lantas muncul berbagai praduga. "Beberapa menganggap tarekat ini bukan Islam, juga bahwa ditempat mereka berkumpul ada air zam-zam dan Ka'bah sendiri," kata Azkia.

Namun dari penelusuran Azkia dan timnya, kenyataan jauh dari dugaan-dugaan itu. Karenanya Azkia ingin menunjukan jika tarekat itu tak salah, haram, maupun terlarang beribadah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka hanya mempunyai pendapat sendiri dalam menjalankan ibadah Islam. Di sejumlah situs tercatat tarekat ini juga diakui di Mesir. "Mereka Lebarannya juga bareng Nahdatul Ulama kok," kata Azkia menegaskan.

Azkia dan teman-temannya lantas memulai proyek mereka dari sudut pandang Tante Cora, seorang perempuan anggota tarekat yang berjualan di sekitar pesantren.

"Idenya memang dari sekitar pesantren. Apa yang dijual Tante Cora juga tak haram. Dia juga enggak pernah ngajak santri untuk masuk Khalwatiyah," katanya kepada detikHOT.

Soal ibadahpun tak banyak berbeda. "Ketika kamu shalat, matamu harus fokus menghadap ke bawah. Kalau matamu ke mana-mana, shalatmu tidak akan diterima," ujar Tante Cora dalam film dokumenter berjudul 'Tata Cara Tante Cora'.

Film dokumenter yang dibuat oleh tim Axkia dalam waktu singkat ini bisa menyampaikan pesan kepada masyarakat bagaimana cara ibadah jamaat Khalwatiyah. Namun, kata Azkia, ia lebih fokus terhadap kehidupan Tante Cora.

Sepanjang syuting film ini, ia menjelaskan jika terdapat satu kesulitan yakni ketika ingin merekam adegan mereka zikir bersama setiap malam Sabtu maupun Minggu. "Adegan itu yang ambil ustadznya dan pakai kamera handphone, tidak boleh kami masuk dan bawa handycam," ujar Azkia.

Ke depannya, perempuan yang bercita-cita menjadi reporter ini ingin membuat film dokumenter lainnya seputar kehidupan pesantren. Serta isu-isu di sekitar mereka. "Dari belajar video dokumenter di program ini, aku jadi tahu mana cerita-cerita yang mau dan bisa dijadikan video dokumenter," ujarnya.

Selain soaal tarekat, santri-santri pesantren ini juga membuat video dokumenter lainnya yang berjudul 'Santri Punk'. Cerita ini juga masuk menjadi finalis Festival Film Santri 2013.

(tia/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads