Kala Anak Pesantren Bikin Film Tentang Keberagaman Islam

Festival Film Santri (1)

Kala Anak Pesantren Bikin Film Tentang Keberagaman Islam

- detikHot
Rabu, 26 Feb 2014 08:59 WIB
Kala Anak Pesantren Bikin Film Tentang Keberagaman Islam
Saat penyerahan karya terbaik. (dok.FFS)
Jakarta -

Bicara soal pesantren tak pelak ada pemandangan khas yang langsung terbayang. Gadis-gadis muda berkerudung, dan jejaka-jejaka berbaju koko dan berpeci. Tapi soal keilmuan, para santri masa kini tak melulu identik dengan kegiatan mengaji. Mereka juga belajar tentang multimedia, bahkan sebagian dari mereka lewat produksi film dokumenter.

Lewat ajang Festival Film Santri, mereka mampu menunjukkan Islam pun menjadi lebih pluralisme dan menyebarkan misi perdamaian. Berbagai ide di setiap wilayah pesantrennya masing-masing membuat 21 film karya santri di 10 pesantren lolos masuk seleksi Festival Film Santri.

Festival yang diselenggarakan oleh Search for Common Ground (SFCG) Indonesia bekerja sama dengan Wahid Institute dan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) ini membuat roadshow hingga ke kota-kota di Indonesia dan London.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Pekan lalu, detikHOT bertandang ke pondok pesantren di Cilacap dan berbincang dengan para pembuat film muda ini tentang bagaimana mereka masing-masing memaknai Islam dan menerjemahkannya dalam sebuah karya film dokumenter.

***

Apa jadinya jika sineas muda yang berasal dari santri pesantren membuat film dokumenter? Inilah yang dilakukan oleh 10 tim finalis dari Festival Film Santri (FFS).

Tema yang diangkat pun berkisar pada toleransi, menghargai perbedaan, hidup damai, anti kekerasan, dan budaya lokal. "Dari tema itu semuanya, ditemukan benang merah tema sentralnya adalah 'Memahami untuk Menghargai," ujar project officer festival, Suraji kepada detikHOT di Wisma PKBI, beberapa waktu lalu.

Program yang sudah berjalan sejak September lalu ini sudah membekali para santri dalam pembuatan video dokumenter. Di antaranya, pondok Pesantren Ash Shidiqiyah (Tangerang), Qothrotul Falah (Lebak, Banten), Raudlatul Banat (Cirebon), Ihya Ulumaddin (Cilacap), Al-Muayyad (Solo), Sabilul Hasanah (Banyuasin, Sumatera Selatan) dan sebagainya.

Suraji mengatakan melalui film dokumenter, setiap santri punya kekuatan untuk mengubah suatu keadaan. Khususnya pandangan negatif mengenai santri sendiri maupun kegiatan di dalam pesantren.

Misalnya, film dokumenter 'Kuda Lumping', menurut Suraji ia tidak menjustifikasi terhadap kultur lokal. "Tapi menghadirkan dua pendapat tentang kuda lumping dan ide itu patut dihargai."

Sama halnya dengan film dokumenter tentang tarekat Khalwatiyah di Sulawesi Selatan. Di sana, terdapat ribuan jamaah sebagai pengikut tarekatnya dan mengaku masih berada di bawah panji Islam.

"Banyak yang bilang tarekat itu menyimpang dari Islam. Tapi sebenarnya melalui film ini mau menggambarkan bagaimana sebenarnya kehidupan satu jamaah tarekat dan mendokumentasikannya," ujarnya.

Festival Film Santri yang dibuka pada Juni 2013 silam di Erasmus Huis Jakarta, kini sudah disaksikan sekitar 3200 penonton di berbagai pesantren. Serta dipromosikan ke berbagai komunitas di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Maluku, dan London, Inggris.



Β 





Β 



(tia/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads