Mesin Waktu Itu Bernama 'Museum di Tengah Kebun'

Menilik Museum Pribadi (1)

Mesin Waktu Itu Bernama 'Museum di Tengah Kebun'

Ropesta Sitorus - detikHot
Senin, 24 Feb 2014 10:08 WIB
Mesin Waktu Itu Bernama Museum di Tengah Kebun
Mirza Djalil saat memandu mengelilingi museum selama 2,5 jam. (Ropesta Sitorus/detikHOT)
Jakarta - Museum seringkali dimaknai hanya sebagai sebuah tempat dimana benda-benda bernilai sejarah dan seni dikumpulkan, diamati, dan dipelajari.
Β 
Tapi siapa sebenarnya yang berhak mengatakan sebuah benda bernilai sejarah atau seni? Bagaimana ketika misalnya kepedulian akan benda bernilai sejarah dan seni mulai luntur? Apalagi ketika sebagian orang mulai melihat benda-benda itu sekadar sebagai barang komoditi yang bisa dijual untuk mendapatkan keuntungan semata.

Untungnya masih ada orang-orang tertentu yang peduli akan persoalan ini dan mencoba mendirikan museum pribadi. Ya, museum yang semua koleksinya dibeli dengan merogoh kocek pribadi, dengan tujuan agar benda itu bisa dilihat dan dipelajari masyarakat luas.

Dua museum yang bersifat pribadi ini ada di Jakarta, dan detikHOT berkesempatan berbicara dengan para pemiliknya. Apa dasar mereka mendirikan museum pribadi ini, ikuti paparannya berikut

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

*****

Bangunan yang terletak di Jalan Kemang Timur Nomor 66, Jakarta Selatan, itu tidak terlihat mencolok. Sekilas, ia hanya tampak seperti rumah tinggal mewah pada umumnya. Pintu gerbang kayu selebar tujuh meter itu tertutup rapat menutupi bangunan di dalamnya. Di gerbang yang mirip pintu penjara itu dililit kawat duri di bagian atasnya.

Enam topeng aneka rupa digantung di sana. Sebuah tulisan 'Museum Di Tengah Kebun' jadi satu-satunya penanda bangunan tersebut adalah sebuah museum. Bukannya ditempel di plang yang menghadap ke jalan, tulisan itu ditempel di kanan kiri tembok dinding.

Kalau tak jeli memperhatikan, sulit menemukan museum di tengah kebun di kawasan yang dipenuhi rumah mewah, minimarket, cafΓ© dan sekolah itu. DetikHOT berkesempatan mengunjungi museum yang dianugarahi predikat Museum Terbaik di Jakarta itu, Rabu (19/2) lalu.



Mirza Djalil, pemandu museum membukakan pintu gerbang kayu dan menyilahkan masuk. Begitu melewati pintu kecil, mata langsung dimanjakan dengan pemandangan asri berupa pohon palem rindang yang ditanam di kanan kiri jalan selebar 7 meter. Jalan setapak itu juga ditanami rumput yang hijau segar dan tertata rapi.

β€œJalan ini seperti menyusuri lorong waktu,” kata Mirza mengawali obrolan. Pernyataannya tak berlebihan. 'Lorong waktu' sepanjang 60 meter itu seperti mengajak pengunjung melupakan keriuhan kota secara perlahan.

Segarnya udara dan suasana nyaman yang terbangun membuat pengunjung lupa masih berada di Jakarta. Ibarat sebuah transisi sebelum benar-benar dibawa menjelajah waktu di dalam museum.

Museum pribadi milik Sjahrial Djalil, 74 tahun, ini, sesungguhnya adalah sebuah rumah tinggal.
Sjahriaal mulai membuka pintu untuk kunjungan tamu sejak 2009 lalu. Uniknya rumah tinggal si empunya dan museumnya menyatu sejak dirampungkan pada 1 Oktober 1980. Bahkan hingga kini Sjahrial masih menempati rumah museum.

Ia tidur, makan, dan beraktifitas dengan menggunakan koleksi museumnya. Sjahrial tak menyimpan koleksinya hanya di dalam rumah.
Sebaliknya, dia menyusunnya tidak beraturan.
Bukan berarti tidak rapi, namun penataannya sengaja tidak dibuat kaku ala museum kebanyakan.

Ribuan koleksi 'harta karun'nya yang bernilai ratusan juta bahkan miliaran ditaruh di sembarang tempat, mulai dari di pintu masuk, di dinding luar, di lantai, tengah taman, di dapur, di kamar, bahkan di toiletnya.



Begitu memasuki pelataran bangunan utama, pengunjung langsung disambut arca Ganesha dari Kejaraan Singosari dari abad ke 13 di Jawa Timur. Ada tempayan besar abad 18 dari dinasti Qing, Cina. Ada juga replica patung Nabi Musa buatan Michaelangelo tahun 1800-an.

Sementara fosil-fosil tua seperti fosil pohon dari Jawa berusia 248 juta tahun sebelum masehi, fosil kerang asal Maroko dari masa Jurasic, 230 juta tahun sebelum masehi, fosil lebah raksasa dari Sangiran, Jawa Tengah yang belum diketahui umurnya mengentalkan nuansa museum.



(ros/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads