Koreografer Ini Selipkan Gerakan Simbol Anti Kekerasan Seksual di Tariannya

Bangkit Menari, Melawan Kekerasan (4)

Koreografer Ini Selipkan Gerakan Simbol Anti Kekerasan Seksual di Tariannya

Astrid Septriana - detikHot
Rabu, 12 Feb 2014 11:43 WIB
Koreografer Ini Selipkan Gerakan Simbol Anti Kekerasan Seksual di Tariannya
Dok.One Billion Rising
Jakarta - Tari yang menjadi inti gerakan One Billion Rising (OBR) di seluruh dunia, memang telah memiliki koreografi tarian sendiri. Gerakan yang dibuat oleh OBR Global juga disosialisasikan lewat situs dan berbagai moda jejaring sosial seperti Youtube.

Tahun ini dengan mengangkat tema 'Rise for Justice' lagu yang disiapkan untuk mendukung gerakan tari berjudul 'Break the Chains'. Khusus OBR Indonesia, sejak tahun pertamanya para relawan menggandeng Rizki Wicaksono seorang seniman kreatif untuk berkontribusi menjadi koreografer.

"Tahun lalu dan sekarang, koreografernya sama yaitu Rizki Wicaksono," kata Shera Rindra, relawan OBR Indonesia, kepada detikHOT Selasa (11/2/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sudah ada gerakan tari yang jadi patokan globalnya, tapi tahun lalu kita enggak ikutin gerakan yang global karena pada saat itu mereka belum terbitkan koreografinya."

Daripada menunggu lama, kata dia, pihaknya mencoba membuat koreografi tari yang lebih mudah. Agar banyak orang yang tertarik dan tidak kesulitan untuk melakukan tarian ini.

Rizki Wicaksono sendiri mengaku sangat senang bisa mengkontribusikan kepiawannya dalam menari untuk mendukung gerakan OBR di Indonesia. "Tapi yang tahun kedua ini cukup kebingungan, karena sudah ada gerakan yang disiarkan dalam ranah global," jelasnya.

Ia pun mengubah beberapa bagian dalam tarian yang digagas OBR Global. "Supaya bisa lebih sederhana dan bisa dipraktekan sama siapa saja, dimana saja."



Namun, ia juga tetap menyelipkan beberapa gerakan yang penting karena menjadi simbol dari anti kekerasan seksual terhadap perempuan.

Rizki menjelaskan persiapan untuk membuat koreografi OBR tahun ini, ia memerlukan dua hari untuk mendengarkan tiap nada. Serta lirik pada lagu plus satu hari untuk mengaplikasikannya pada gerakan.

"Lebih lama meresapi musiknya supaya tetap bisa menciptakan simbol-simbol pada tariannya. Di lagunya ada yang membahas soal menolak kekerasan, membuka pintu kebebasan dan ini saya coba aplikasikan," jelasnya.

Pada saat menari, koreografer ini mengaku merasakan kebebasan. Ia merasa kembali berpikir tentang kepeduliannya pada kekerasan seksualitas setelah disibukan dengan kegiatannya sehari-hari.

"Bahkan saya merasa membebaskan diri saya dari diri saya sendiri. Sadar bahwa saya tidak bisa seegois itu untuk tidak memikirkan isu sosial."

Ia pun merasa tidak jengah terhadap stereotip pria yang menari dan bergerak gemulai. Rizki tak merasa terbebani.

Baginya, selama melakukan hal yang menyenangkan dan tidak mengganggu orang lain semua akan baik-baik saja. "Saya ingin terlibat karena ini merupakan gerakan untuk melawan kekerasan terhadap perempuan. Dan selama saya melakukan sesuatu yang baik, tidak menganggu orang, saya pikir semuanya bisa baik-baik saja," kata Rizki.

Ia juga berpikir bahwa lebih baik melakukan aksi sosial lewat kesenian, setidaknya tidak menganggu ruang publik seperti menyebabkan kemacetan atau merugikan orang lain.

"Lagipula menari kan menghibur, mungkin ini bisa menular ke orang yang juga ingin menghibur." Baginya OBR kali ini adalah sebuah perayaan bagi mereka yang telah bangkit, dan mengajak orang-orang agar lebih peduli pada perihal sosial yang terjadi di negeri kita maupun di dunia.

(ass/tia)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads