Tahun lalu tercatat ada 207 negara di seluruh dunia yang ikut merespon kegiatan ini, dengan melakukan aksi dukungan menari massal di kota tempat mereka tinggal. Sejak itu, Indonesia menjadi salah satu negara yang bergabung dengan gerakan One Billion Rising.
Kali ini, detikHOT menyajikan laporan lengkap mengenai kegiatan yang berakar pada perlawanan terhadap kekerasan seksual.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
***
Gerakan One Billion Rising (OBR) secara global diinisiasi oleh seorang penulis dan feminis, Eve Ensler. Perempuan berusia 60 tahun ini berada di India ketika ide untuk membuat gerakan muncul dalam benaknya.
"Saat itu Eve Ensler sedang berada di India, ketika terjadi perkosaan terhadap seorang mahasiswi di dalam bus. Peristiwa ini yang menjadi pemicu dia membuat gerakan One Billion Rising dan ternyata disambut baik," kata Dhyta Caturani, relawan di OBR Indonesia kepada detikHOT di kawasan Kalibata City, Jakarta Selatan (10/2/2014).
Acara yang diselenggarakan satu tahun sekali ini biasanya diadakan pukul 2 siang di Lapangan Barat Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Siapa pun bisa hadir untuk menari bersama di sana dan menunjukkan dukungan terhadap aksi tersebut.

Kenapa acara ini bernama One Billion Rising? Dhyta memaparkan alasannya.
"Ini sebenarnya dari statistiknya saja, ketika satu dari tiga perempuan di dunia mengalami kekerasan artinya ada satu milliar perempuan di dunia yang mengalami kekerasan," ujarnya.
Meski pesan yang diangkat dalam gerakan global ini bisa dibilang berat, namun bukan berarti mereka mencoba menceramahi orang-orang dengan bahasa yang tinggi dan sulit dipahami.
Uniknya, ia justru lebih memilih seni sebagai kendaraan menghantarkan pesan soal keadilan dan memecah diam di antara masyarakat. "Semua strategi memang harus dipakai dan salah satunya dengan menari. Dan menari itu kan menarik."
Relawan lain yang ditemui detikHOT hari itu, Shera Rindra Pringgodigdo menjelaskan bahwa tarian itu sesuatu yang bisa dipahami secara global, bisa ditiru dengan mudah dan akhirnya ditularkan ke orang lainnya di seluruh dunia.
Tak hanya itu saja, tarian dalam gerakan ini juga dianggap sebagai salah satu ekspresi pembebasan tubuh. "Tarian juga menjadi simbol pembebasan tubuh perempuan yang selama ini oleh sosial selalu dibungkam," jelasnya.
Di Indonesia sendiri gerakan ini cukup diterima dengan baik. Tahun lalu ketika pertama kali diselenggarakan dan para relawan di Indonesia hanya punya waktu kurang dari satu bulan.
Di sana, ada sekitar 400 orang yang menunjukkan dukungan dengan menari di kawasan Monumen Nasional. "Kita enggak sangka juga yang datang cukup banyak, karena tahun lalu itu jatuh di hari dan jam kerja."
Selain itu, ada juga yang menunjukkan kepedulian dengan cara lain. "Kita juga menerima respon dari orang yang peduli seperti menulis status di sosial media mereka, membuat tulisan soal anti kekerasan juga kirim foto dukungann. Jadi kita bebaskan orang untuk bangkit dengan caranya masing-masing," kata Shera.
(ass/tia)











































