Segala unsur mulai dari pemerintah, seniman maupun warganya bersama-sama membangun tur Philadelphia Mural Arts Program. Para wisatawan bisa mengunjungi mural-mural yang ada di tembok, sudut kota, melihat proses artistiknya hingga latar belakang sejarahnya.
Apakah Jakarta bisa seperti itu? Salah satu seniman dan pendiri komunitas Serrum MG Pringgotono mengiyakannya jika semua unsur mendukung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Street art, kata dia, bisa menjadi potensi wisata yang tinggi dan karyanya di tembok bisa dijadikan permanen dan legal. Sayangnya belum ada itikad baik untuk membuat program tersebut.
Menurutnya, tiga tahun lalu banyak periset dari luar negeri yang mengunjungi ibukota sekedar meneliti perkembangan dunia street art dan grafiti. Saat itu, banyak sekali yang datang dan ingin tahu.
"Banyak periset semacam Riksa yang pingin datang ke sini, karena street art kita kedengaran oleh mereka," kata MG. Namun kini hal itu justru menurun tanpa sebab.
Padahal di beberapa titik ruang publik Jakarta, baik Serrum maupun seniman street art lainnya banyak yang berkreasi di titik tersebut.
"Yah kalau Pemda bisa melihatnya sebagai potensi wisata seperti Philadelphia itu lebih bagus lagi. Kami tidak berharap sebagus di sana, tapi paling enggak ada wisatawan yang bisa menikmati gambar-gambarnya," ujarnya.
Di Philadelphia, tur mural pun diatur dan dibagi menjadi beberapa kelompok seperti melalui kereta, dengan berjalan kaki, secara berkelompok, individu, bersepeda dan sebagainya.
Di sana, mural sudah menjadi tradisi kota secara turun temurun untuk menciptakan seni yang mampu mengubah ruang publik dan kehidupan pribadi. Para seniman bersama warga berkolaborasi dan menjaganya bersama-sama sejak puluhan tahun lalu.

(tia/utw)











































