Sapardi Djoko Damono Luncurkan Buku Tentang Slamet Rahardjo

Sapardi Djoko Damono Luncurkan Buku Tentang Slamet Rahardjo

Tia Agnes Astuti - detikHot
Kamis, 30 Jan 2014 13:54 WIB
Sapardi Djoko Damono Luncurkan Buku Tentang Slamet Rahardjo
Dok: Tia Agnes/detikHOT
Jakarta - Sastrawan Sapardi Djoko Damono meluncurkan sebuah buku mengenai Slamet Rahardjo Djarot, 65 tahun sebagai penghargaan atasnya. Esai panjang ini ditulisnya mengenai karier Slamet di teater, film, dan televisi selama lebih dari 40 tahun.

Tak hanya ketiga bidang saja itu saja, namun menurut Sapardi, sosok aktor yang bergabung dalam Teater Populer tersebut juga diapresiasi di pendidikan seni.

"Slamet mampu berjalan di empat dunia ini dari awal sampai sekarang. Padahal kantornya di IKJ hanya 2 x 3 meter," katanya saat peluncuran buku 'Slamet Rahardjo: Sebuah Esai Sapardi Djoko Damono' di Galeri Salihara, Jakarta Selatan, Rabu malam (29/1/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menceritakan proses awal pembuatan buku ini. Sapardi berkata ingin membuat dokumentasi kisah hidupnya Slamet ke dalam esai panjang.

"Kata dia, ngapain aku dibikinin esai yang cuma 5 halaman dan dipuji-puji kayak biografi itu. Enggak mau," kata Sapardi menirukan perkataan Slamet saat itu.

Namun, penyair 'Hujan di Bulan Juni ini' justru menyakinkannya akan menulis sebuah buku. "Bukan 5 halaman, tapi satu buku yang aku mau tulis bukan buat muji-muji kamu," katanya.

Lantas Slamet mengiyakannya dan proses pembuatan buku setebal 169 halaman itu dimulai. "Banyak seniman yang berhasil di teater, film, dan televisi. Tapi tidak banyak dari mereka yang mampu mengajar seni selama 30 tahun," kata Sapardi.

Selain alasan tersebut, Sapardi membuat ini juga dalam rangka hari ulang tahun Slamet yang ke 65 pada 21 Januari lalu. "Orang yang pantas dicatat karena pencapaiannya tidak banyak. Slamet Rahardjo adalah salah satunya."

Esai itu dimulai ketika Slamet masih di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mencari teman bermain di lingkungan Institut Kesenian Jakarta, Cikini.

Cerita berjalan sampai ia menjadi Ketua Senat IKJ, masuk Teater Populer, bermain film dan mendapatkan penghargaan 'Best Actor' dalam film Ranjang Pengantin (1975). Sepeninggalnya Teguh Karya, ia dipercaya meneruskan Sanggar Teater Populer.



(tia/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads