Tak hanya ketiga bidang saja itu saja, namun menurut Sapardi, sosok aktor yang bergabung dalam Teater Populer tersebut juga diapresiasi di pendidikan seni.
"Slamet mampu berjalan di empat dunia ini dari awal sampai sekarang. Padahal kantornya di IKJ hanya 2 x 3 meter," katanya saat peluncuran buku 'Slamet Rahardjo: Sebuah Esai Sapardi Djoko Damono' di Galeri Salihara, Jakarta Selatan, Rabu malam (29/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kata dia, ngapain aku dibikinin esai yang cuma 5 halaman dan dipuji-puji kayak biografi itu. Enggak mau," kata Sapardi menirukan perkataan Slamet saat itu.
Namun, penyair 'Hujan di Bulan Juni ini' justru menyakinkannya akan menulis sebuah buku. "Bukan 5 halaman, tapi satu buku yang aku mau tulis bukan buat muji-muji kamu," katanya.
Lantas Slamet mengiyakannya dan proses pembuatan buku setebal 169 halaman itu dimulai. "Banyak seniman yang berhasil di teater, film, dan televisi. Tapi tidak banyak dari mereka yang mampu mengajar seni selama 30 tahun," kata Sapardi.
Selain alasan tersebut, Sapardi membuat ini juga dalam rangka hari ulang tahun Slamet yang ke 65 pada 21 Januari lalu. "Orang yang pantas dicatat karena pencapaiannya tidak banyak. Slamet Rahardjo adalah salah satunya."
Esai itu dimulai ketika Slamet masih di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mencari teman bermain di lingkungan Institut Kesenian Jakarta, Cikini.
Cerita berjalan sampai ia menjadi Ketua Senat IKJ, masuk Teater Populer, bermain film dan mendapatkan penghargaan 'Best Actor' dalam film Ranjang Pengantin (1975). Sepeninggalnya Teguh Karya, ia dipercaya meneruskan Sanggar Teater Populer.
(tia/utw)











































