Komikus Indonesia pun banyak yang bermunculan dengan gayanya tersendiri, meski masih banyak di antara mereka yang masih mengikuti gaya komik Jepang dan Korea. Bagaimana dengan nasib tokoh lokal dalam komik Indonesia?
Menurut pengamat komik Beng Rahadian, sekarang tidak banyak komikus yang mempunyai konsep jagoan yang baru. Mayoritas masih mengikuti gaya dari Amerika seperti Kapten Marvel, dan lain-lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantaran miskin konsep mengenai jagoan lokal, mereka pun banyak yang tidak konsisten dan idealis. "Padahal kekuatan lokal itu penting dan sangat berpengaruh di masyarakat Indonesia."
Jika dari pendekatan kebudayaan, setting lokal yang dekat dengan kaum urban serta remaja, dan unik, otomatis para pembaca komik akan membelinya.
Sementara itu, menurut Is Yuniarto sekarang sudah banyak komikus yang menampilkan figur lokal. Jika pun masih ada yang ragu, kata dia, kemungkinan karena pandangan dari pembaca saja.
"Sebagian pembaca ada yang masih menganggap unsur atau karya lokal enggak bisa bersaing dengan figur luar negeri. Itu salah besar," ujar lulusan dari Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra.
Secara goresan maupun gambar dan ide cerita, komikus Indonesia tidak kalah hebatnya. "Mereka punya pasarnya sendiri," kata juara favorit Lomba Komik Jawa Pos tahun 2001, yang kemudian dimuat secara bersambung di Jawa Pos.

Proses yang panjang dengan menggunakan konsep lokalitas, dipandang Franki Indrasmoro atau Pepeng sebagai sebuah perjalanan idealisme. "Terpenting si komikus ini mau dulu buat figur lokal dan tetap pada jalannya."
Jika sudah yakin, permasalahan berikutnya terletak di mencari penerbit yang mumpuni. Kini sudah banyak penerbit yang khusus menerbitkan komik Indonesia. Di situ, letak pasar dengan segmentasi yang sudah terbentuk akan membantu pemasaran dengan baik.
(tia/utw)











































