Sejak 2012, Ed mengubah tampilan peta yang kaku, kemudian memasukkan potret wajah seseorang. Fungsinya sendiri tidak berubah sebagai penunjuk jalan. Hanya saja lebih artistik.
Ide pembuatan peta itu berasal dari banyak hal. Sebagian besar yang tak bisa diterjemahkan lewat kata dan bahasa, akhirnya tertumpah dalam sebuah desain menarik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa karyanya tidak melulu berbentuk wajah. Ada pula gambar siluet bentuk tubuh wanita telanjang, atau potret simbol rasi bintang. Sedangkan peta yang dibuat merupakan peta Norwich, Shrewsbury, Solihull, dan Amsterdam.
Dia menjelaskan, proses pembuatan peta berkontur lukisan ini tidak memakan banyak waktu, yakni sekitar tiga hari saja. Alat yang digunakan pun simpel, pensil dan sedikit pewarna.
Karya seni tersebut dijual dengan harga termurah Β£ 1000 atau sekitar Rp 16 juta, dan yang termahal Β£ 12 ribu atau sekitar Rp 192 juta. Kolektornya berasal dari berbagai daerah di Amerika, Australia, dan Eropa. Beberapa dipajang di sebuah galeri di Denver, Colorado.
"Saya lebih peduli pada estetika dibanding lokasi peta dan itu sangat menyenangkan," ujarnya.
(fip/utw)











































