Bergaul dengan Warga Lokal, Senjata Jitu Berlatih Aksen

Melirik Pelatihan Aksen dalam Seni Peran (3)

Bergaul dengan Warga Lokal, Senjata Jitu Berlatih Aksen

Astrid Septriana - detikHot
Jumat, 24 Jan 2014 11:36 WIB
Bergaul dengan Warga Lokal, Senjata Jitu Berlatih Aksen
Sokola Rimba (dok. detikHOT)
Jakarta - Belakangan semakin banyak film yang mengangkat budaya asli suku-suku bangsa kita. Sebut saja seperti Laskar Pelangi, Sokola Rimba, Denias, Tanah Air Beta dan masih banyak lagi.

Semakin banyak daerah di nusantara yang terangkat, tentu semakin beragam juga bahasa daerah dan logatnya yang harus dikuasai oleh para pemainnya.

Dunia barat memanfaatkan keberadaan pelatih aksen, agar sederhananya seorang aktor Amerika bisa memiliki logat British yang fasih dan begitu sebaliknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Indonesia, belum banyak profesi pelatih aksen. Yang ada adalah seorang pelatih akting. Dalam ranah cakupan kerjanya setidaknya pengetahuan sang pelatih akting akan aksen bahasa daerah tertentu akan sangat diandalkan.

Arswendy Nasution, yang telah lama berkiprah dalam dunia seni peran dan hingga kini masih aktif dalam Teater Mandiri bersama Putu Wijaya menceritakan apa yang ia ketahui soal pelatihan aksen para pemain teater dan film Indonesia.

"Dalam batas tertentu biasanya ada pelatihan dan didampingi oleh orang daerah setempat. Ini akan bergantung tuntutan pada ceritanya," ujarnya kepada detikHOT (22/01/2014).

Pelatihan yang ia berikan tentunya mencakup materi pendalaman karakter yang harus diperankan pemain, termasuk kepekaan inderawi hingga daya imajinasi juga improvisasi pemain. "Semua instrumen yang diperlukan seorang aktor akan dilatih dalam batas tertentu, disesuaikan dengan waktu yang disediakan produksi."

Menurutnya, pemain yang perlu berbahasa daerah dan menggunakan cengkok daerah tertentu juga akan dipertemukan dengan para orang lokal agar terbiasa. Ini yang membuat latihan kepekaan yang ia berikan jadi memiliki sebuah peran penting.



"Mereka akan belajar langsung pada orang daerahnya atau menyediakan waktu untuk bergaul dengan warga lokal. Kemudian mengadaptasinya dengan kepekaan yang mereka miliki," jelasnya.

Arswendy menjelaskan bahwa seni peran Indonesia sebenarnya sejak lama sudah bertaraf Internasional, tentu saja dengan ke cirinya sendiri. "Itu sebabnya saya kerap kali menganjurkan para aktor kita untuk belajar dan mengorek ilmu dari para aktor-aktor tradisi kita lewat Teater Tradisional yang begitu banyak di Nusantara ini. Cuma saja Film-nya yang baru mulai merambah ke arah ini."

Menurut Arswendy bermain seni peran itu bak permainan catur. "Selalu saja ada kemungkinannya, meski tampak seperti itu-itu saja langkahnya. Ini yang membuat saya terus mengolah seni peran dan yang utama karena saya mencintainya," kata Arswendy.

Ia mencintai dunia seni peran ini, dan terus berkiprah di dalamnya karena seni peran baginya merupakan seni menjadi orang lain, seni memainkan karakter lain, jadi kita punya pengalaman dan belajar memahamoi orang lain dalam kehidupan nyata.

(ass/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads