Ayudia Bing Slamet Kuasai Cengkok Melayu dalam Sehari

Melirik Pelatihan Aksen dalam Seni Peran (1)

Ayudia Bing Slamet Kuasai Cengkok Melayu dalam Sehari

- detikHot
Jumat, 24 Jan 2014 10:17 WIB
Ayudia Bing Slamet Kuasai Cengkok Melayu dalam Sehari
Ayudia Bing Slamet (dok.detikFOTO)
Jakarta - Di film Hollywood seperti Alice in Wonderland apa Anda menyadari kepiawaian Johnny Depp dan Anne Hathaway dalam berakting? Tak hanya soal berakting namun mereka bisa memiliki aksen British yang sempurna dalam film itu.

Sebaliknya di film trilogi Twilight, Robert Pattinson yang kental aksen British-nya di Harry Potter malah terdengar sangat Amerika.

Untuk kebutuhan film Hollywood tentunya profesi pelatih aksen memiliki peranan yang penting. Sementara di Indonesia peranan khusus pelatih aksen masih menjadi penanggung jawab pelatih akting. Selebihnya para aktor dituntut untuk eksplorasi lebih jauh sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bisa dibilang profesi ini masih langka dan belum banyak terjamah di industri film Indonesia. Kebutuhan akan keberadaan seorang pelatih aksen sebenarnya bukan tak ada, beberapa film dan sinetron kita sudah mulai memerlukan ini.

Lihat saja di 99 Cahaya di Langit Eropa, film laris yang baru-baru ini diputar. Disitu Raline Syah dan Acha Septriyasa harus menggunakan bahasa Jerman. Sementara Sandra Dewi menggunakan aksen Prancis yang kental.

Untuk itu kali ini detikHOT akan sajikan laporan mengenai serba-serbi pelatihan aksen baik dari dalam maupun luar negeri.

***

Sosok perempuan kelahiran 13 September 1990 ini tentunya sudah tak asing lagi. Ya, bintang berbakat yang telah membintangi banyak judul sinetron ini memang terus mengembangkan bakatnya dalam seni peran.

Ayu, demikian ia akrab disapa juga pernah memiliki pengalaman berperan dengan aksen Melayu.

Dalam sinetron berjudul 'Melati untuk Marvel', yang pernah tayang pada sekitar tahun 2008 hingga tahun 2009 ini, Ayu memerankan karakter Syarifah perempuan asal Malaysia.

"Kalau untuk persiapannya sendiri, kebetulan peran ini aku dapatkan mendadak. Aku kayaknya baru diberikan kabar sekitar dua hari sebelum syuting dimulai dan ini masih tentatif. Jadi persiapannya agak minim yah," ujarnya kepada detikHOT (18/01/2014).



"Sehari sebelum hari H, baru itu keputusannya ada. Saat menerima peran itu aku juga sempat khawatir, takut perannya jadi jelek, aku mau banget tapi aku butuh latihan atau apapun itu."

Ayu akhirnya menerima tawaran ini. Namun kegelisahannya harus memerankan perempuan Malaysia belum lenyap. Ia pun dengan sigap menonton rangakaian DVD dari film Malaysia.

"Aku inisiatif sendiri, meminta dicarikan referensi entah dari DVD atau mungkin ada orang yang bisa mendampingi aku, untuk saat syutingnya." Saat menonton dan coba menelaah bagaimana orang Malaysia berdialek, Ayu mulai mengerti dan menurutnya ini ternyata tak terlalu sulit.

"Karena sebenarnya lebih main di cengkok saja karena kalau bahasanya masih sama. Jadi hampir sama juga seperti kalau kita belajar bahasa daerah," jelasnya.

Sementara proses syuting ini terus berjalan, Ayu pun kian piawai dalam berdialek dalam bahasa Malaysia. Namun, keinginannya untuk belajar lebih jauh seolah tak surut.

"Saat proses syutingnya berjalan sebenanrya aku juga kepingin ada satu orang yang mendampingi aku. Jadi saat kru masih atur-atur tempat syuting adegannya, waktu setengah jam atau sejam bisa aku pakai untuk latihan sama si pelatihnya, yang native gitu."



Akhirnya ia pun memiliki seorang pelatih. Bukan yang asli dari Malaysia, pelatihnya juga orang Indonesia yang telah lama tinggal di Malaysia, dan ia mengerti sekali soal cengkok Malaysia.

Menurut Ayu, meski disini cengkok, aksen, dialek dalam beberapa bahasa belum menjadi hal yang penting atau menjadi perhatian khusus bagi penonton, ia tetap ingin suguhkan yang terbaik.

"Kalau aku prinsipnya, mau orang sadar atau enggak dan mementingkan hal ini atau enggak, aku kepingin menampilkan yang terbaik. Jadi aku mikirnya luas aja, apabila penontonnya enggak perduli tapi pasti ada di antara mereka yang perduli dan ngerti juga."

***

Kedepannya, Ayu cukup optimistis akan mampu memerankan tokoh atau karakter lain yang mencerminkan daerah tertentu di Indonesia. "Aku mau banget karena aku juga punya kemauan untuk belajar dan dilatih," ujarnya.

Aktor Indonesia yang menurutnya telah piawai dalam mewakili dialek, mimik juga logat dari seorang tokoh adalah Reza Rahardian di film Habibie dan Ainun.

"Walaupun ini memang enggak mengacu ke bahasa daerah, cuma aksen dia disini bagus banget, dan mungkin kan pak Habibie itu orang Gorontalo ya, bisa jadi itu juga merupakan aksen dari bahasa daerahnya." Ayu sendiri ingin memerankan seorang tokoh pejuang perempuan dari dataran Aceh, yakni Laksamana Malahayati.

Karena sebelumnya ia sudah pernah memerankan tokoh ini dalam sebuah pentas teater drama musikal. Bila ini diangkat menjadi sebuah serial atau film, Ayu sangat ingin memerankannya.

"Karena ceritanya memang bagus, terus kurang banyak terekspos juga dan ini mengangkat budaya Aceh yang corak bahasanya juga cukup kental," kata Ayudia.

(ass/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads