Cuaca ekstrim yang melanda hampir di seluruh belahan dunia diduga ada kaitannya dengan budaya serta penggunaan simbol komunikasi zaman batu dan dekorasi berbentuk kerang.Â
Penelitian yang dilakukan oleh tiga lembaga, yakni Cardiff University's School of Earth and Ocean, Natural History Museum di London, dan University of Barcelona menyebutkan bahwa simbol komunikasi 80 ribu sampai 40 ribu tahun lalu yang hingga kini masih dipakai di Afrika Selatan berpengaruh terhadap tingginyaa curah hujan di berbagai wilayah.Â
Mereka mempelajari inti sedimen laut di lepas pantai Afrika Selatan dan melakukan rekonstruksi variabilitas iklim terestrial selama 100 ribu tahun terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut ditambahkan Profesor Ian Hall, juga dari Cardiff University yang menjelaskan bahwa perkembangan budaya dan peradaban manusia ikut andil dalam menimbulkan cuaca ekstrim.Â
"Ketika dibandingkan dengan data arkeologi, kami menemukan korelasi antara perubahan iklim dengan perkembangan budaya, bahasa, dan peradaban manusia," ujar Profesor Ian.Â
Catatan arkeologi Afrika Selatan sangat penting karena menunjukkan beberapa bukti tertua perilaku manusia di periode awal.Â
Profesor Chris Stringer dari Natural History Museum, London, menjelaskan, hubungan antara iklim dan inovasi budaya memunculkan pandangan bahwa pertumbuhan penduduk memicu perubahan melalui peningkatan interaksi manusia.Â
"Kualitas data di Afrika Selatan memungkinkan kita menemukan korelasi ini. Tapi, akan lebih baik jika ada data pembanding di daerah lain yang mungkin memperkuat temuan," kata Profesor Chris.
(fip/utw)











































