"Hai, aku Bonnie komite JICC," sapanya. Tangannya menggenggam kertas-kertas bertuliskan not balok yang akan dipelajarinya di semester itu. Perbincangan pun dimulai.
Tadinya ia bekerja sebagai perawat di California. Namun ia harus pindah ke Jakarta ketika suaminya yang bekerja di perusahaan minyak. Pengalamannya menyanyi dimulainya ketika berusia 5 tahun dengan paduan suara gereja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anggota JICC dari luar negeri atau kalangan ekspatriat tak hanya ada Bonnie saja. Ia adalah salah satu generasi awal ketika komunitas ini berdiri. Malam itu, ada sekitar empat orang yang hadir.
Awalnya memang anggota JICC mayoritas adalah bule, namun sejalannya waktu banyak dari mereka yang sudah kembali ke negara asalnya. Serta punya kesibukan masing-masing.
Menurut pendirinya, Ivonne Atmojo, dari bule sampai pekerja kantoran dengan berbagai latar belakang profesi ada di sini. Seperti Chairis Yoga, seorang pengusaha yang aktif dalam kepengurusannya.
Ia ikut sejak 2008 dan tak pernah sekali pun absen, kecuali tugas luar kota dan sakit. Namun kecintaannya dengan komunitas JICC selalu membuatnya semangat untuk datang tepat waktu.
"Buat saya di sini fun banget. Karena ini komunitas yang bukan competition choir dan enggak ada audisi. Semuanya to sing with love and enjoy," ujarnya.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Pungky, 28 tahun. Karyawan asuransi internasional ini ikut sejak lima tahun lalu dan selalu gembira ikut JICC. "Di beberapa proyek konser saya juga dipercaya jadi koreografer padahal enggak ada ilmunya, ha..ha..ha"
Di antara anggota JICC, ada satu anggota muda yang masih berusia 18 tahun. Ia adalah Pepita, siswi dari SMA Pelita Harapan sekaligus menjadi murid dari Ivonne Atmojo di Music Republician.
"Saya senang nyanyi dan memang diajak Bu Ivonne. Ini baru dua kali kedatangan saya dan memang anggotanya orang-orang yang sangat menyenangkan," ujar Pepita.











































