Banyak Naskah Buku Ditolak, Anak Muda Ini Bikin Usaha Penerbitan Mandiri

Rupa-rupa Penerbitan Buku Mandiri (1)

Banyak Naskah Buku Ditolak, Anak Muda Ini Bikin Usaha Penerbitan Mandiri

Firda Puri Agustine - detikHot
Rabu, 15 Jan 2014 08:56 WIB
Banyak Naskah Buku Ditolak, Anak Muda Ini Bikin Usaha Penerbitan Mandiri
Yayas (Firda Puri Agustine/detikHOT)
Jakarta - Ada banyak cara seseorang menumpahkan ide dan perasaan. Paling mudah dengan menulis. Entah medianya berupa buku diary, media massa, atau membuat buku untuk diterbitkan pada khalayak.

Poin ketiga tadi kini sedang booming. Orang seperti berlomba punya karya buku sendiri. Apapun bisa ditulis. Mulai genre fiksi, non fiksi, hingga teenlit sekalipun. Sebagai wujud eksistensi? Sah-sah saja.

Yang jadi masalah, jumlah penerbit besar masih terbatas dan tidak semua naskah diterima. Terutama lantaran tidak sesuai standar mutu. Kalau buku yang dijual tidak laku, siapa paling rugi? Tentu penerbitnya sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, situasi tersebut lantas dimanfaatkan oleh mereka yang membuat perusahaan penerbit mandiri, atau self publishing. Tak lain agar semua orang bisa membuat buku.

DetikHot bakal mengupas seluk beluk penerbit mandiri, juga penulis yang pernah menerbitkan bukunya di jalur ini. Seperti apa? Simak laporan berikut.

*****

Suatu senja di pertengahan 2008, Anindra Saraswati, 26 tahun, membaca puluhan naskah 'terbuang'. Ini hal biasa yang dilakukan seorang staf penerbitan buku di Yogyakarta. Boleh membaca, tapi tidak memutuskan apakah layak terbit atau tidak.

Lama-lama hati wanita yang akrab disapa Yayas itu miris menyaksikan ratusan, bahkan ribuan naskah bagus ditolak. Maka, pada 2009, bersama sang kekasih, Irwan Bajang, ia memutuskan keluar dan membuat usaha penerbitan mandiri (self publishing), Indie Book Corner.

"Waktu itu saya dan Mas Irwan kerja di penerbitan yang sama dan merasa bahwa sebenarnya banyak naskah bagus layak terbit, tapi kok ditolak. Akhirnya, coba bantu teman-teman penulis pemula untuk punya buku sendiri," kata Yayas kepada detikHot, Senin (13/1/2014).

Berbekal ilmu yang didapat dari tempat kerja lama, keduanya merintis usaha dari nol. Teman-teman terdekat diajak menulis dan menerbitkan buku. Alhasil, selama 4 tahun, lebih dari ratusan buku hadir. Beberapa diantaranya best seller.

Penulis yang semula teman tongkrongan, kini datang dari berbagai kalangan. Entah itu jurnalis, mahasiswa, ibu rumah tangga, artis, hingga politisi sekelas Nova Riyanti Yusuf.

"Penulis buku Radio Galau, Bernard Batubara juga pernah di Indie Book Corner, jurnalis, mahasiswa, macam-macam. Ada juga penulis yang jadi langganan terbitin buku di kami," ujarnya.

Indie Book Corner tidak hanya menyediakan jasa penerbitan murni saja, juga editing hingga pendistribusian ke toko buku. Tergantung keinginan dan kebutuhan penulis.

"Kami menawarkan jasa paketan, mulai dari editing, desain cover, sampai pemasaran. Tapi, kalau penulisnya hanya ingin diterbitkan saja dan sudah diedit sendiri, enggak apa-apa," kata Yayas.

(fip/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads