Namun, bisa jadi ini berseberangan dengan hasrat dari gerakan seni di Indonesia. Ya, logika ini disampaikan oleh Ade Darmawan, Direktur Ruang Rupa. Selama ini Ruang Rupa telah banyak menyajikan festival seni yang bersifat inklusif, bisa diakses seluas-luasnya untuk publik dan menjaring seniman muda yang berpartisipasi.
Gerakannya yang bisa dibilang agresif untuk terus merespon kondisi ruang kota Jakarta, baik masyarakatnya maupun regulasi dari pemerintahnya. Untuk tahun ini, Ade Darmawan membocorkan beberapa agenda acara seni untuk publik yang akan dihelat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berbeda dengan Arte yang lalu, pameran seni rupa ini akan dibuka bagi 18-40 perupa untuk mendaftarkan karya visualnya, nantinya akan diseleksi untuk dipamerkan." Acara lain yang juga akan menyerap perhatian publik lainnya adalah Jakarta 32'c, yang merupakan salah satu wadah pameran karya mahasiswa visual di Jakarta.
"Ini sekaligus peringatan Jakarta32'c yang ke 10 tahun. Akan diadakan juga pameran keliling untuk karya-karya terbaik dari pameran sebelumnya ke Surabaya dan Semarang," jelasnya.
Menurut Ade, tahun ini seniman muda Indonesia akan semakin banyak lagi yang ikut serta pada acara seni di tataran internasional. "Beberapa diantaranya juga akan berpartisipasi pada program residensi seniman di luar negeri."
Tahun 2014 ini, Ruang Rupa juga akan berpartisipasi di Sao Paulo Biennale, Brasil. "Ini Biennale kedua yang tertua, setelah Venice Biennale." Bicara karya seni, Ade membahas bahwa setidaknya dengan menjelang pemilu 2014, akan banyak praktek seni rupa yang hadir di ruang publik dengan pendekatan propaganda.
"Perupa yang bersikap kritis pasti akan bereaksi, merespon dan memberikan pernyataan. Praktek seni rupa dengan pendekatan propaganda kemungkinan besar akan marak," kata Ade.
Setiap kampanye partai politik semakin besar-besaran, dampak visualnya pada ruang publik juga akan semakin terlihat jelas. Ini juga yang menurut Ade akan menjadi tantangan besar bagi para perupa yang menjadikan ruang publik sebagai tempatnya memajang karya.
"Perupa di ruang publik pasti akan mendapat tantangan besar dengan adanya kampanye pemilu di ruang publik." Ade berharap seniman akan terus kritis, terutama dengan adanya situasi politik yang akan berubah. Kritis dalam artian terhadap kekuasaan, juga terhadap masyarakat sendiri.
Sikap kritis ini pula, menurut Ade, yang akan menjadi benang merah yang mewarnai tren utama kreasi seni Indonesia 2014. Namun, jangan serta merta menelan ini.
Bicara tren, bagi Ade, seniman juga perlu lebih banyak menggali dan mengeksplorasi bahasa juga medium visual yang digunakan. Artinya kritik tak hanya selalu keluar, tapi ke diri sendiri, ke karya sendiri.
"Harus bisa lepas dari jebakan tren gaya visual tertentu. Dibutuhkan usaha eksplorasi terus menerus dari seniman dan dibutuhkan kritik seni rupa yang baik untuk selalu bisa menajamkan dan memberi konteks bagi publik."
(asa/utw)











































