"Penonton FTV harus bisa membawa mereka kembali setelah iklan. Kalau di bioskop kan mereka sudah stay dan memang berniat menonton. Di televisi, kita yang menariknya," katanya kepada detikHOT.
Dari situ, memang ada teknik bercerita sendiri. "Kita harus pahami terlebih dahulu bahwa penonton dan segmennya berbeda," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu bukan urusan kami. Yang terpenting adalah brief dengan produser apa, segmennya apa, lalu kita bikin cerita. Tugas penulis itu membuat cerita yang membuat produser jatuh cinta sama skenarionya," ujarnya.
Menurutnya, urusan rating bukanlah semata menjadi tanggung jawab dari si penulis skenario. Rating merupakan pertemuan dari banyak hal, dari jajaran kru paling atas hingga ke bawahnya.

Kepala penulis di Wahana Penulis ini memberikan contoh jika skenario bagus dibuat oleh sutradara jelek, atau skenario bagus tapi ditayangkan di jadwal bukan prime time dari jam 5 sore hingga 9 malam. "Yah, ratingnya tetap drop dong."
Lantaran banyak unsur tersebut, kata Bagus, banyak pihak yang terlibat dalam soal rating televisi dan iklan yang masuk. Ia mengatakan jika televisi adalah sarana yang paling tepat untuk menciptakan doktrin maupun tren tertentu.
"Televisi adalah medium yg paling personal dan intens. Ruangnya lebih banyak dan strategis untuk mengubah persepsi masyarakat dan FTV sangat potensial," katanya.
Oleh karena itu, seharusnya yang dimiliki oleh para penulis skenario adalah membuat cerita bagus dan tak melulu mengikuti kemauan industri. "Karena dia membentuk persepsi orang."
Ceritanya tetap harus seru dan menghibur. Tapi juga mempunyai nilai namun bukan yang dimaksud dengan pesan moral. "Akan lebih baik jika ia mempunyai statement atas situasi yang terjadi di sekitarnya," kata Bagus.
(tia/ass)











































