Lampu Kerupuk Tukang Jualan, Itu Barang Seni?

Biennale Desain dan Kriya Indonesia 2013 (6)

Lampu Kerupuk Tukang Jualan, Itu Barang Seni?

Astrid Septriana - detikHot
Jumat, 03 Jan 2014 15:25 WIB
Lampu Kerupuk Tukang Jualan, Itu Barang Seni?
Jakarta -

Tak asing tentu saja, melihat kerupuk digantung pada bilik warung tradisional. Ini biasa kita temui. Namun yang asing adalah melihat kerupuk-kerupuk yang digantung bersama sebuah bohlam kuning di dalamnya pada ruang pameran.

Nyatanya, karya dari Irwan Ahmett yang kali ini dipamerkan pada Biennale Desain dan Kriya 2013 berjudul LampKrupuk. Ya sesederhana lampu bohlam kuning menggantung, dengan kerupuk yang biasa terpampang di warung.

Karya seniman kelahiran 22 Mei 1975 ini bisa dibilang kontras dengan karya-karya lain di ruang pamer itu. Dimana karya lain secara umum tampak apik, mewah, atau dipadati ragam teori desain, sementara karya Irwan seolah remeh, murah dan dekat dengan keseharian kita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Irwan Ahmett selama ini memang dikenal dengan karya yang tampak sederhana, namun sarat makna dan banyak ditampilkan langsung pada ruang publik, memiliki pertimbangan sendiri dalam memilih LampKrupuk.

"Karena perlu dipertanyakan sampai sejauh mana peranan desain pada keseharian warga," ujarnya kepada detikHOT (29/12/2013). Ia pun menjelaskan lebih jauh soal LampuKrupuk ini.

"Sebuah lampu yang terbuat dari untaian bungkusan plastik yang diisi kerupuk. Selain mereduksi cahaya disekitarnya, ini juga memberikan kehangatan kepada kerupuk supaya tidak melempem. Hal ini diketahui setelah berbicara dengan pedagang kerupuk dekat rumah."

Dalam karya ini Irwan Ahmett berkolaborasi dengan Mas Anto dan Kang Lili, seorang pemilik warung gerobak di Jakarta. Menurut Irwan, modus yang biasa seniman olah cenderung spontan dan memakai pendekatan-pendekatan humor.

"Karena ini terkadang mampu menembus wacana-wacana yang terlalu kaku yang kerap dimunculkan dalam konsep-konsep desain yang terkadang terlihat prestisius namun lemah dalam memberikan dampak yang nyata," jelasnya.



Maka, masih dalam pandangannya, seniman percaya dengan konsep city mimicry. Karena ini dapat menjadi kritik segar yang terlepas dari wacana desain melankolik yang mendayu-dayu. City Mimicry merupakan bentuk demokratis berfikir dari kebiasaan warga kota yang direspon secara kreatif.

***

Selain memampang proyek LamKrupuk ini, Irwan Ahmett membawa proyek kolaborasinya dengan Jiro Lab, karya ini bernama Mosquitatoo. Tato dari bekas gigitan nyamuk, ya sederhananya seperti itu.

Lebih jelasnya, ini merupakan sebuah proyek rekayasa genetika. Dimana Irwan dan Jiro Lab pada awalnya hanya ingin mengubah cara pandang manusia pada umumnya, yang selama ini bermusuhan dengan nyamuk.

Membunuh nyamuk mungkin bukan jalan utama, bagaimana jika kita berdamai dengan nyamuk? Ya proyek rekayasa genetika pada nyamuk ini, dipaparkan mampu membuat bekas gigitan nyamuk dengan bentuk atau desain yang diinginkan. Bak tato.

(ass/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads