Makin lama, apresiasi yang diberikan semakin menyusut. Hal itu dirasakan betul oleh Apat Supriyono yang sudah hampir 24 tahun melakoni profesi tersebut.
"Media sekarang makin banyak bermunculan. Tapi, porsi untuk kartunis makin sedikit. Hanya beberapa media saja yang bertahan memakai gambar kartun," kata Apat kepada DetikHOT, Sabtu (28/12/2013) lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dulu kan hiburan terbatas. Jadi, orang banyak yang tertarik baca kartun. Lihat saja dulu komik kartun Doyok terkenalnya kayak apa," ujarnya.

Namun, dia meyakinkan diri bahwa profesi kartunis tidak akan pernah mati. Akan selalu ada celah yang bisa dimanfaatkan. Misal, dengan mengikuti pameran seperti yang digagas PAKARTI (asosiasi kartunis Indonesia) pekan lalu.
"Bisa juga bikin usaha sendiri atau freelance. Jadi, tidak bergantung pada media," kata Apat.
Lain lagi dengan yang dirasakan Jitet Kustana, kartunis senior Harian Nasional Kompas. Dia merasa apresiasi yang diberikan sudah cukup bagus.

Ya, karena media tempat ia bekerja tak perlu diragukan. Terlebih, pria asal Semarang itu memang langganan juara internasional dimana penghargaan terhadap kartunis begitu luar biasa.
"Harusnya kartunis itu bisa menciptakan lahan sendiri. Lebih kreatif dan inovatif. Masih banyak yang belum digali kok. Jadi, tidak harus bergantung sama media," ujar Jitet.
Dia menyemangati para juniornya untuk terus mengasah kemampuan dengan ikut berbagai lomba, baik di dalam maupun luar negeri. Paling penting bukan meraih juara, tapi menambah wawasan serta pengalaman.
"Menang kalah itu biasa. Yang dicari, proses belajarnya akan sangat banyak sekali. Di situ ada persahabatan, cinta, budaya, macam-macam. Tinggal tergantung kemauan kartunis sendiri. Mau apa enggak? Itu saja," katanya.
(fip/utw)











































