Apat Supriyono bilang, jaman dulu, seorang kartunis bahkan rela tidak dibayar asalkan bisa dimuat di koran. Persaingan pun cukup ketat karena tidak sembarang orang dipilih.
"Dulu itu kartunis karyanya mesti dimuat di media. Patokan jadi kartunis itu ada pada media. PAKARTI (Asosiasi Kartunis Indonesia) juga seperti itu, hanya menerima kartunis yang karyanya minimal pernah dimuat," kata Apat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Definisi kartunis sekarang memang lebih luas dan jadi bias. Beda dengan kondisi dulu. PAKARTI pun sekarang lebih terbuka menerima siapapun yang tertarik dengan kartun, tidak harus bawa nama media," ujar pria yang juga menjabat sebagai bendahara PAKARTI ini.

Hal senada diungkapkan Hendricus David Arie, kartunis jebolan Institut Kesenian Jakarta. Bagi pria 33 tahun ini, imej kartunis yang bekerja di media lebih prestisius.
Terlebih, bila media tersebut adalah media besar dan ternama. Jaringan relasi semakin banyak, nilai jual karya pun bakal makin tinggi.
"Kerja di media itu ibarat perahu saya. Semacam ada portofolio-lah. Job diluar kantor semakin mudah. Nilai jual pun otomatis terangkat. Enggak lengkap kalau jadi kartunis, tapi belum rasain dimuat di media," kata David.
Sementara menurut kartunis senior Jitet Kustana, mereka yang bekerja di media membawa misi yang jauh lebih mulia ketimbang sekadar menjadi pekerja lepas.
"Kartunis membawa pesan moral lewat karyanya. Ketika pesan itu disampaikan lewat media, efeknya juga massal karena yang dibela kepentingan rakyat. Coba, kalau kamu memberi sumbangan ke satu orang dengan membantu korban Lapindo yang jumlahnya ratusan, lebih banyak manfaat yang mana?" ujar Jitet.
(fip/utw)











































