Inilah yang dikatakan oleh salah satu koreografer Dedy Lutan Dance Company, Wiwiek Harie Wahyuni, 46 tahun. Ketika ia semester tiga kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ia diberikan saran oleh gurunya untuk belajar Tari Cokek.
"Saat itu belum ada penari yang menggarap Tari Cokek, kebanyakan Topeng terus. Kebetulan kami mahasiswi ini tiap semester disuruh harus bikin tarian untuk tugas," katanya kepada detikHOT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, Tari Cokek ini lebih menarik dibawakan dibandingkan Tari Topeng. Pasalnya gerakan Cokek ketika pinggul digoyangkan seluruh tubuh ikut menari. "Membulat istilahnya."
Berbeda ketika di Topeng, gerakan pinggungnya hanya patah-patah. Wiwiek pun memodifikasi tari tradisi Cokek ini. Ia membuatnya menjadi minimalis namun sensual.
"Saya buat inovasi dari Cokek, Cokek sendiri sudah minimalis tapi sensual. Nah, untuk menggarap sensual dengan minimalis sangat berat. Ada teknik-teknik tertentu," jelasnya.
Tak hanya Cokek, tapi penari yang juga belajar menari dengan maestro tari Betawi, Wiwik Widiastuti ini juga menyelipkan silat Betawi di dalamnya. "Itu untuk percikan emosionalnya saja."
Meski dasarnya menari yang digeluti Wiwiek adalah tarian Jawa, namun hingga kini ia merasa aman ketika selalu membawakan Tari Cokek. Spesialisasinya pun menjurus kepada tari tradisi Betawi.

Kiprahnya dalam dunia seni tari hingga sekarang ini masih berlangsung. Ia juga menjadi penata tari Dinas Kebudayaan DKI, Lembaga Kebudayaan Betawi, Dewan Kesenian Jakarta, Direktorat Kesenian Jakarta, Sanggar Aruni, dan sebagainya.
Beberapa karyanya yang pernah dibuat yakni Renggong Manis, Sipat Sipat, Topeng Gegot, Nindak Kipas, Pak Blang, Renggong Cokek, Sinau, Merah Purbosari, Mak Kinang, Abad (bersama), Sujud, Ariah, Ngegebrak, Ariah Si Mariam, dan Ronggeng Jingkrak.
(tia/utw)











































