Laras Kalbu Atayu, 23 tahun, salah satu pramugari maskapai nasional, bilang, melayani penumpang dan memastikan kenyamanan mereka merupakan bagian dari seni. Seperti halnya melukis, diperlukan passion untuk menjalani profesi ini.
"Aku senang jadi pramugari. Setiap hari belajar sabar, belajar telaten. Seninya di situ. Orang mikirnya pramugari cuma jadi pelayan. Salah besar," kata wanita yang akrab disapa Ayas kepada DetikHot, Rabu (18/12/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayas lagi-lagi harus bersabar dan tetap tersenyum sembari meminta bantuan kawannya untuk membantu meletakkan koper. "Pramugari memang tidak bertugas mengangkat barang penumpang, tapi membantu mencari tempat dan memastikan semua clear," ujarnya.
Pelajaran lain yang didapat adalah seni berbicara di hadapan publik. Beruntung, Ayas pernah mengenyam pendidikan broadcasting di Universitas Persada Indonesia YAI, Jakarta.
Ilmu tersebut diterapkan saat penumpang marah akibat penundaan jadwal terbang (delay) karena sejumlah alasan tertentu. Mereka lebih sering menumpahkan kekesalan pada kru kabin yang sebenarnya tidak memiliki tanggung jawab terhadap hal itu.
"Mau take off atau landing di Jakarta kadang harus antri karena padat. Itu kadang penumpang enggak mengerti. Jadi, harus dijelaskan pelan-pelan sampai mereka paham," kata Ayas.
(fip/utw)











































