Takut Ketinggian, Wanita Ini Malah Nekat Jadi Pramugari

Lebih Dekat dengan Profesi Pramugari (1)

Takut Ketinggian, Wanita Ini Malah Nekat Jadi Pramugari

- detikHot
Jumat, 20 Des 2013 08:57 WIB
Takut Ketinggian, Wanita Ini Malah Nekat Jadi Pramugari
Ayas di tempat tugas. (dok pribadi)
Jakarta - Pada umumnya mereka cantik, setidaknya menyejukkan pandangan, bertubuh permai dengan tinggi diatas rata-rata wanita Asia. Proporsional. Mereka dituntut untuk selalu bersikap ramah dan full senyum. Bahkan mungkin ketika sedang dirundung masalah.

Persyaratan fisik dan mental untuk jadi seperti mereka memang tak sembarangan. Kita akan selalu bisa menemui mereka di pesawat terbang. Mereka para pramugari ini sudah akan menyapa ramah sejak kita memasuki pesawat, hingga memberikan salam perpisahan saat sampai di tempat tujuan.

Namun, sayang, masih banyak orang kerap meremehkan profesi yang satu ini. Pramugari hanya dianggap sebagai pemanis dalam perjalanan. Padahal, tugas mereka ternyata cukup berat dan penuh risiko.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

DetikHot mencoba menggambarkan seperti apa sebenarnya tugas pramugari dan cerita mereka yang menyenangkan sekaligus menegangkan berikut ini :

***

"Flight attendant, take off position," suara pilot sudah memberi tanda pesawat akan lepas landas. Hari itu, pertengahan September 2011 menjadi hari pertama Laras Kalbu Atayu bertugas sebagai pramugari sebuah maskapai nasional.

Deru mesin makin kencang. Pesawat perlahan mengudara. Perasaan wanita 23 tahun ini sungguh tak menentu. Ada senang yang bercampur takut, grogi, dan tegang. Bagaimana tidak, sejatinya ia memang tak begitu nyaman dengan ketinggian.

"Pertama kali deg-degan banget. Takut pas take off sama landing," kata Laras kepada detikHOT, Rabu (18/12/2013).

Dia bercerita, tak pernah terlintas sedikit pun bakal menjalani profesi tersebut. Bukan pula sebuah cita-cita masa kecil. Ayas, begitu ia akrab disapa, hanya iseng mengikuti ajakan temannya untuk melamar lowongan kerja sebagai pramugari.

"Waktu itu ada teman yang mengajak ikut tes pramugari. Saat itu aku sempat enggak tertarik. Tapi, sebulan kemudian tiba-tiba punya pikiran buat mencoba. Ya sudah akhirnya ikut coba," ujarnya.

Keisengan mencoba tak disangka berbuah manis. Ayas lolos semua tes dan resmi diterima. Dia pun wajib mengikuti pelatihan pramugari selama lebih dari 6 bulan.

Kebanggaan lain tentu lantaran maskapai yang menerimanya bukan perusahaan sembarangan. Salah satu Badan Usaha Milik Negara yang begitu populer dan merajai langit Indonesia.

"Enggak tahu kriterianya bagaimana, aku cuma ikut semua tes dan alhamdulillah lulus. Senang dan bangga juga. Enggak menyangka akhirnya berkarir sebagai pramugari," kata Ayas.

Kini, setelah lebih dari 2 tahun mengudara, ia mengaku sudah mampu menimalisir kecemasan. Terutama, saat berada di ketinggian tertentu. "Alhamdulillah, sudah terbiasa dan malah menyenangkan," ujarnya.

(fip/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads