Kompetisi seni rupa Trimatra yang diselenggarakan Salihara dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), akhir pekan lalu diumumkan pemenangnya.
Para pemenang dibacakan oleh perwakilan dewan juri, Jim Supangkat. "Kompetisi ini dirancang untuk pergerakan seni patung. Saat karya-karya yang melampaui batas konvensi yang ada," katanya di Galeri Salihara Sabtu malam (7/12/2013) lalu.
Kompetisi Trimatra ini terdiri dari dua tahap yakni mengirimkan gagasan dan karya jadi berukuran 50 x 50 x 50 sentimeter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penilaiannya berdasarkan angka tertinggi dan tertutup. Artinya tidak diketahui juri lainnya," ujar Jim.
Para peserta yang mengikutinya pun bebas tidak harus berdasarkan disiplin ilmu seni rupa. Tapi terbuka bagi arsitek, pematung, grafis, dan lain-lainnya. Usianya pun dibatasi kurang dari 35 tahun.
Direktur program Komunitas Salihara, Nirwan Dewanto mengatakan kompetisi Trimatra ini melingkupi para seniman muda yang berhasil keluar dari pakem seni patung.
"Beberapa tahun belakangan ini, seni patung mulai tumbuh. Kompetisi ini menampung gejala yang tumbuh di bidang tiga dimensi, yang berada di luar, beyond culture," kata Nirwan.
Para pemenang di antaranya yaitu juara 1 Faisal Habibi dengan judul patung 'Masyarakat Diam' mendapatkan hadiah Rp 50 juta. Juara dua yaitu Octora dengan 'Gadis Komando' dapatkan Rp 30 juta.
Serta juara tiga yaitu Budi Agus Nugroho dapatkan hadiah Rp 20 juta. Selain itu, juga terdapat lima pemenang pilihan dewan juri.
Semua karya pematung muda ini akan dipamerkan di Galeri Salihara pada Februari mendatang, usai para pemenang menyelesaikan residensi selama satu bulan di Berlin, Jerman.
(tia/utw)











































