Kalimat ini menjadi pembuka dalam pementasan lakon 'Diary Kematian' oleh Teater Q, Rabu (4/12/2013) pekan lalu.
Pria berpakaian piyama dan berambut gondrong itu berperan sebagai Aryo dan menceritakan sebuah kepedihan dalam drama keluarganya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beragam adegan dihadirkan untuk menceritakan siapa sosok ayah yang sebenarnya. "Ini kisah yang realis. Berawal dari saya yang ingin menghadirkan sebuah kenangan yang bisa dijadikan pelajaran bagi penonton," kata sutradara Edi Saputra usai pementasan di TIM, Kamis (5/12/2013) pekan lalu.

Di awal pentas, Edi sengaja menghadirkan semua tokoh yang mematung di atas panggung. Bersama ketiga penari berpakaian putih yang menari mengelilinginya.
"Ada adegan-adegan yang memang dipertunjukkan, kisah yang alami dan di luar pikiran manusia. Inilah drama realis tapi menceritakan otak yang ada di dalam pikiran Aryo," katanya.
Drama realis ini merupakan kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Banyak kasus pemerkosaan anak gadis yang dilakukan ayahnya, bayi dibuang oleh ibunya sendiri, maupun kasus pedofilia lainnya.
"Ini di luar nalar manusia itu sendiri. Tapi sekarang saya tampilkan dalam peristiwa yang sudah terjadi."
Karya pemikiran tokoh dan dihadirkan ke atas panggung, menurut Edi, terinspirasi dari naskah-naskah hasil karya Arifin C.Noer. Menurutnya, ada dunia pikiran yang bisa ditafsirkan dalam seni pertunjukkan.
Meski pertunjukkan selama dua jam ini dinilai panjang oleh dua orang tim pengkritik teater, namun Edi dengan tegas mengatakan itu adalah kisah realis yang memang cukup panjang dipentaskan.

Beberapa adegan memang tampak datar, terlebih ketika perdebatan mulut antara Aryo dan kedua kakak laki-lakinya. Emosi terlihat tapi penonton terdengar bising ketika mereka saling berteriak selama 10 menit.
Ketika menuju akhir pementasan, tokoh Aryo ditutup dengan kematian. Sebuah pistol memuntahkan peluru menuju kepalanya sendiri.
"Akhir yang sungguh dramatis. Kami patut apresiasi," kata Malhamang Zamzam, saat sesi diskusi pertunjukkan.
Namun, ia menyanyangkan adanya simbol penanda pistol di pentas. Pasalnya, apakah pistol mudah didapatkan ketika era tahun 1960-1970an sesuai latar setting naskah?
"Saya rasa enggak mudah. Tapi yah ending menutupnya secara epik. Dengan kembali menghadirkan sosok ayah di akhirnya," katanya.
(tia/utw)











































