Serta peranan penting dari adanya Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jalan Cikini, Jakarta Pusat sebagai pusat kebudayaan saat itu.
Di Indonesia, Festival Teater Jakarta (FTJ) yang sedang berlangsung penyelenggarannya hingga 11 Desember mendatang merupakan yang tertua sekaligus terbesar. Mengapa?
Pertanyaan tersebut akan dijawab bersama dengan tulisan berseri lainnya mengenai topik liputan khusus festival ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
***
Sebelum TIM berdiri pada 1968, teater masih dianggap tontonan asing. Saat itu, teater hanya dikenal sebagai kesenian rakyat dan tradisi.

"Namun saat teater dipandang sebagai ilmu dan DKJ mulai menyelenggarakan sayembara penulisan naskah, itu menjadi langkah besar," kata Ketua Komite Teater DKJ periode 2013-2015, Dewi Noviami kepada detikHOT akhir pekan lalu.
Dewi menceritakan setelah TIM selesai dibangun, DKJ memikirkan fungsi kesenian untuk menghidupkan gedung nan megah tersebut.
Kemudian, pada 1973 silam, Wahyu Sihombing bersama seniman lainnya membuat sebuah perhelatan teater terbesar. Dinamakannya Festival Teater Remaja Jakarta yang berbasis kampus dan komunitas.
"Saat itu untuk mencari bibit-bibit grup teater yang unggul karena belum banyak grup teater yang mumpuni mengisi acara di TIM," katanya.
Sistem pemilihannya sejak awal sudah ketat dan memakai jenjang seleksi di tingkat wilayah. "Di masanya yang ikut seleksi bisa ratusan grup, dan bisa dibilang sangat diminati."
Sejarah penyelenggaran FTJ juga pernah tidak dipegang oleh DKJ, melainkan di tiap gelanggang-gelanggang remaja setiap wilayah. Namun, sejak 2006 lalu, DKJ kembali mengemban tugas ini.
Sudah tujuh tahun perhelatan ini dibuat laiknya festival dengan rangkaian pementasan dan acara pendukung seperti diskusi. Serta peluncuran buku.
"Meski festival ini tidak segegap gempita seperti di luar negeri. Tapi FTJ masih menjadi tempat para grup teater menggodok dan melatih kelompoknya," kata Dewi.
(tia/utw)











































