Inspirasi Karya Dari Klenik Sampai Komik Neraka dan Surga

\'Pelicin\' di Jakarta Biennale 2013 (5)

Inspirasi Karya Dari Klenik Sampai Komik Neraka dan Surga

- detikHot
Jumat, 29 Nov 2013 13:37 WIB
Inspirasi Karya Dari Klenik Sampai Komik Neraka dan Surga
Salah satu seniman (Tia Agnes Astuti/detikHOT)
Jakarta - "Mbah, saya mau kaya. Tolong kasih saya nomer keberuntungan," itulah penggalan rekonstruksi karya audio visual dari kelompok seni yang bernama Cut and Rescue.

Rekonstruksi kalimat berbau klenik tersebut berada di dalam ruangan berukuran kecil yang terbuat dari kayu. Di dalamnya tak ada cahaya, aroma kembang tujuh rupa juga menyengat ketika awal masuk.

Tim Cut and Rescue terdiri dari Aditya Fachrizal Hafiz, Angga Cipta, Mario Julius, dan 'Acan' Rafsan Yuono. "Kami bersama yang mengeksplor ide di pameran Pelicin ini," kata Mario, kepada detikHOT.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karya mereka di pameran 'Pelicin' kali ini tak hanya ada itu saja. Tapi juga poster empat panel yang diadaptasi dari doa dan hadits yang membahas mengenai rejeki.



Serta komik kolase surga dan neraka, yang menampilkan alur dan dialog-dialog baru sesuai dengan dosa dan perbuatan terkini.

Soal audio visualnya, ada sandiwara radio yang yang mengambil potongan dialog film Indonesia di era 1970an sampai 1980an yang digabungkan menjadi narasi cerita baru.

"Hal-hal gaib dan klenik ini dulunya sangat kental di Indonesia. Apalagi ketika film-film horor Suzanna sedang tren-trennya."

Pihaknya ingin menghadirkan siasat warga dalam hal rejeki anak nakal dan uang goib dalam berbagai karya yang dipertunjukkannya.

Mario juga mengatakan ada sebuah baliho besar seperti di biosko-bioskop pinggiran Jakarta untuk melengkapi keseluruhan inti dari proyek ini.

"Beberapa bahan kita sadur dari yang sudah ada. Pas kecil, kita selalu baca komik surga dan neraka, lalu menghilang lagi sekarang. Ada beberapa yang kami sadur dan buat versi terkininya," kata Mario.

Ada juga yang terinspirasi ketika membaca Majalah Hidayah. Lalu membuat karya audio visual dari sana. Menurut Mario, kultur ini merupakan siasat warga yang tak akan ada habisnya.

"Mungkin di Jakarta sudah enggak, tapi saya yakin di daerah masih banyak yang melakukannya," ujar mahasiswa dari Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Padjajaran Bandung ini.







(tia/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads