Dengan wadah bambu tradisional yang diselempangkan, wanita 36 tahun itu mengumpulkan satu demi satu biji kapas yang sudah matang.
Kapas-kapas ini nantinya diolah menjadi benang untuk kemudian dipakai menenun.
Jangan tanya berapa lama prosesnya. Ya, karena bisa sangat panjang. Terlebih jika memakai serat dan warna alami. Satu lembar selendang sepanjang 90 cm saja baru selesai selama minimal dua hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantaran tak punya kebun sendiri, maka ia harus menyeberang dari rumahnya di Desa Ternate Umapura, Alor Besar, Nusa Tenggara Timur, mulai jam 4 pagi. Perjalanan pun ditempuh sekitar 20 menit.
Kegiatan tersebut dilakukan hampir setiap hari sejak usia remaja. Lelah sudah pasti. Tapi, ibu tiga anak ini tak pernah merasa bosan. Kain tenun sudah dianggap sebagai warisan leluhur yang wajib dijaga serta dilestarikan.
"Saya berangkat jam 4 pagi pakai perahu motor untuk ambil bahan tenun. Sampai jam 4 sore baru pulang lanjutkan di rumah. " ujarnya.
"Tenun itu punya nenek moyang, jadi tidak bosan. Kalau capek, cari obat saja, lalu istirahat," lanjut Nurbaya.
Satu hal yang patut dikagumi, dia tidak menaruh materi di tempat paling tinggi. Artinya, berapa pun kain tenun yang berhasil dibuat, dia tak pernah mematok harga terlalu mahal.
"Terjual satu saja saya sudah senang karena dapat uang tidak menentu. Kadang Rp 1 juta, kadang Rp 500 ribu, kadang bisa banyak, bisa sedikit. Tuhan kasih saya sehat, saya sudah bersyukur," katanya.

(fip/utw)











































